ANALISIS TIPE DAN SIFAT KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH MI MUHAMMADIYAH DOLOPO
ANALISIS TIPE DAN SIFAT KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH
MI MUHAMMADIYAH DOLOPO
Mualifah Khoirunnisa 502210026
Abstrak
Kepala madrasah merupakan sosok kunci dalam organisasi lembaga
pendidikan yang harus mampu menggerakkan madrasah. Dalam menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya kepala madrasah tentu memiliki tipe gaya
kepemimpinan dan sifat-sifat kepemimpinan yang digunakan untuk
mempengaruhi anggotanya. Penelitian ini menggunakan metode kulitatif, dengan
metode observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan hasil bahwa
kepala madrasah MIS Muhammadiyah Dolopo merupakan pemimpin yang
menerapkan gaya kepemimpinan otoriter dan memliki sifat kepemimpinan
sebagai berikut: baik dan rendah hati, sabar dan mampu meregulasi emosi,
ringan tangan, dan ramah.
Kata kunci: kepala madrasah, tipe kepemimpinan, sifat kepemimpinan
A. Pendahuluan
Kepala madrasah merupakan seorang pemimpin dalam organisasi lembaga
pendidikan madrasah. Kepala madrasah memjadi sosok kunci yang
menggerakkan kegiatan organisasi madrasah. Dalam menjalankan perannya
sebagai pemimpin, seorang madrasah tentu memiliki tipe dan sifat
kepemimpinan. Diantara tipe kepemimpinan madrasah adalah otoriter,
bebas/permisif, demokratis, dan pseudo demokratis.
Selain itu tentulah dalam
menjalankan kepemimpinannya seorang pemimpin memiliki sifat-sifat
kepemimpinan seperti rendah hati dan sederhana, suka menolong, sabar dan
memiliki kestabilan emosi, percaya diri, jujur dan adil, serta memiliki keahlian
dalam jabatannya.
1
2
Namun kenyataannya banyak kepala madrasah di lembaga pendidikan
Islam yang memimpin organisasi lembaga pendidikan tidak sesuai dengan tipetipe
kepemimpinan yang ada. Bahkan beberapa kepala madrasah juga belum
memiliki sifat-sifat kepemimpinan sebagaimana disebutkan di atas. Sehingga
1
Miftah Thoha, Pembinaan Organisasi, Proses Dianosa Dan Intervensi, Manajemen
Kepemimpinan (Yogyakarta: Gava Media, 2010), p. 246.
2
Marno, Manajemen Dan Kepemimpinan Pendidikan Islam (Bandung: Refika Aditama,
2008), p. 58.
kepala madrasah hanya menjadi pelengkap tanpa peran di sebuah organisasi
lembaga pendidikan.
Dampaknya banyak lembaga pendidikan Islam khususnya, yang mati
akibat pengaruh pemimpinnya. Lembaga pendidikan tersebut tidak lagi
diminati masyarakat akibat adanya konflik internal. Konflik antara kepala
madrasah dengan anggotanya yang mengakibatnya turunnya kualitas layanan
pendidikan di lembaga tersebut. Konflik internal yang terjadi tersebut dalam
jangka panjang akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga
tersebut. Haingga akhirnya lembaga pendidikan Islam tersebut mati.
Tentunya masalah ini perlu adanya pengkajian lebih lanjut untuk
mengetahui tipe kepemimpinan dan sifat seperti apa yang ada pada pemimpin
yang mampu mempertahankan lembaga pendidikannya di tengah persaingan
lembaga pendidikan yang begitu ketat. Perlu diketahui bersama tipe dan sifat
kepemimpinan kepala madrasah dalam menjalankan peran dan fungsinya
sebagai madrasah di sebuah madrasah yang bertahan dan diminati masyarakat.
Sehingga masalah ini sangat penting untuk dilakukan penelitian dan pengkajian
secara mendalam.
MIS Muhammadiyah Dolopo merupakan lembaga pendidikan Islam yang
berlokasi di Dolopo, Madiun. Wilayah Dolopo memiliki lebih dari 3 lembaga
pendidikan Islam atau madrasah Ibtidaiyah yang bersaing. MIS
Muhammadiyah Dolopo mampu bertahan di tengah persaingan dengan
lembaga pendidikan Islam lainnya di wilayah Dolopo. MIS Muhammadiyah
Dolopo mampu mempertahankan eksistensinya di masyarakat salah satunya
karena peran penting seorang pemimpin madrasah. Kepala madrasah MIS
Muhammadiyah Dolopo memiliki sifat dan tipe kepemimpinan yang mampu
mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut.
Dari pemaparan di atas maka tulisan ini berjudul Studi Analisis Tipe dan
Sifat Kepemimpinan Kepala Madrasah MIS Muhammadiyah Dolopo. Dengan
rumusan masalah bagaimana tipe kepemimpinan kepala madrasah MIS
Muhammadiyah Dolopo dan bagaimana sifat kepemimpinan kepala madrasah
MIS Muhammadiyah Dolopo.
B. Teori
Tipe Kepemimpinan
Tipe kepemimpinan itu merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang
lain. Oleh karena itu kepemimpinan seseorang dapat mempengaruhi perilaku
orang lain. Demikian pula untuk disiplin pegawai (bawahan) akan dapat
dipengaruhi pula oleh sikap dan tindakan atasan atau pimpinannya. Hubungan
antara pimpinan dan anggota sebagian bisa ditentukan oleh kepemimpinan dan
tingkah laku pemimpin itu sendiri. sebagaimana dikutip dalam buku Modul dan
Model Pelatihan Pengawas Pondasi disebutkan bahwa tipe kepemimpinan itu
ada 4 jenis, yaitu:
1. Otoriter
Seorang pemimpin yang memiliki tipe semacam ini akan
cenderung bersikap selalu ingin berkuasa dan tidak memberi kebebasan
kepada para bawahan, dia beranggapan bahwa dirinya merupakan pusat
segalanya yang dapat menentukan, mengarahkan, mengambil keputusan
dan bawahan tidak memiliki kemampuan seperti apa yang dimilikinya.
Pemimpin sebagai satu-satunya penentu kebijakan yang ada di kantor dan
harus dilaksanakan oleh para bawahan. Ciri-ciri kepemimpinan
Autoritarian (Otoriter):
a. Hanya pemimpin yang berhak untuk menentukan tujuan organisasi
b. Lembaga yang dipimpinnya seolah-olah menjadi milik pribadinya.
c. Karyawan hanya sebagai pelaksana kebijakan dari pimpinan dan harus
melaksanakan perintah yang diberikan pimpinan tanpa harus bertanya.
d. Dalam upaya menerapkan disiplin kepada bawahan dan karyawan,
metode yang diterapkan cenderung memaksa kepada para bawahannya.
e. Tidak menerima kritik, saran ataupun pendapat bawahan.
f. Iinisiatif dari bawahan ditanggapi sebagai sesuatu yang menyimpang
dari kebijakan dan ini merupakan kesalahan.
g. Keputusan pemimpin merupakan satu kebijakan yang terbaik.
h. Bawahan / karyawan bekerja dalam tekanan dan dibawah bayangbayang hukuman
pimpinan.
i. Keberhasilan bawahan dianggap sebagai ancaman terhadap
reputasinya.
3
Dengan melihat pada ciri-ciri diatas, maka dampak yang dapat
ditimbulkannya adalah: Bawahan menjadi penurut (walau kadang
terpaksa), Bawahan tak mampu (takut) untuk berinisiatif, Bawahan takut
mengambil keputusan bahkan yang menyangkut dirinya sendiri, Lembaga
menjadi statis.
4
2. Bebas
Pemimpin yang cenderung bertipe bebas ini mengartikan
kebebasan yang keliru, sehingga bawahan bekerja dibiarkan semau mereka
sendiri tanpa ada kontrol. Kebebasan bagi pemimpin ini merupakan
kebebasan yang mutlak dan harus dimiliki oleh setiap orang termasuk
bawahannya.
5
Menurut konsep tipe ini, anggota bekerja menurut kehendaknya
sendiri tanpa adanya pedoman kerja yang baik yang dibuat oleh pemimpin.
Pemimpin lembaga yang bertipe ini berkeyakinan bahwa dengan
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahan akan lebih
mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pimpinan mendelegasikan
seluruh wewenangnya kepada bawahannya tanpa memberikan pedoman
cara pelaksanaannya. Sedangkan tugas bawahan bertugas menentukan
sendiri bagaimana pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Adapun yang
dilakukan pemimpin hanya menonton apa yang dilaksanakan para
bawahannya. Interaksi antara pimpinan sebagai pemimpin dan bawahan
6
3
Depag RI Dirjend Kelembagaan Islam, Modul dan Model.......opcit, hal. 245.
4
Yuni Yulianti, ‘Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja Guru Di
Mi Nw 02 Kembang Kerang Kecamatan Aikmel Lombok Timur’, Jurnal Manajemen Dan
Budaya, 1.1 (2021), pp. 67–88.
5
Miftah Thoha, Perilaku Organisasi Konsep Dasar Dan Implikasinya (Jakarta: Rajawali
Press, 2012), p. 78.
6
Elfi Rusdiana Ekowati, ‘MODEL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM
MENINGKATKAN KEDISIPLINAN GURU DI SMK MUHAMMADIYAH SE- KABUPATEN
MAGELANG’, Tesis, 2020, p. 35.
serta karyawan sebagai bawahan sangat terbatas. Jadi, fungsi kepala hanya
sekedar simbol pemimpin belaka. Ciri-ciri kepemimpinan tipe bebas
adalah:
a. Keputusan lebih banyak tergantung pada bawahan
b. Dalam melaksanakan suatu kegiatan terkadang tidak memi,iki agenda
yang pasti dan dapat dilaksanakan tanpa sepengatuan pimpinan
c. Jika Dalam kegiatan rapat terjadi pertentangan, pimpinan tidak
berusaha untuk mempertemukan pendapat dari para bawahan, dengan
anggapan bahwa hal ini akan mengurangi rasa kebebasan bawahan
tersebut.
d. Berusaha untuk tidak mengatur bawahan dan karyawan secara ketat,
bahkan terkadang adanya peraturan hanya sekedar sebagai pelengkap
organisasi yang tidak perlu dijalankan.
Melihat pada ciri-cirinya, maka dampak yang mungkin
7
ditimbulkan adalah sebagai berikut:
a. Adanya kebebasan dalam menentukan kegiatan membuat pencapaian
tujuan tidak jelas
b. Sering terjadi ovelapping tugas (tumpang tindih) antara karyawan satu
dengan karyawan lain, mengingat yang berhak menentukan tugas
tersebut adalah bawahan atau karyawan itu sendiri. Sehingga jika ada
pekerjaan yang dirasakan berat akan terjadi saling melempar dari
bawahan atau karyawan satu kepada yang lainnya (kekosongan
pekerjaan)
c. Di sisi lain terjadi kelambanan pekerjaan, hal ini karena
memperebutkan tugas yang lebih ringan dan mudah.
d. Mengingat kontrol ari atasan hampir tidak ada, maka bawahan dan
karyawan kurang termotivasi untuk mencapai tujuan yang optimal.
e. Bawahanan atau karyawan tidak memiliki inisiatif untuk menyelesaikan
satu pekerjaan yang diluar kemampuannya, karena bimbingan dari
atasannya tidak ada.
8
7
Ibid, hal. 246.
3. Demokratis
Seorang pemimpin yang demokratis cenderung berusaha
mengikutsertakan bawahan dan karyawannya dalam proses pengambilan
keputusan. Dengan kalimat lain pimpinan menghargai, bahwa seseorang
memiliki potensi khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain, sehingga
apapun adanya meraka tetap memiliki kontribusi dalam satu keputusan
yang akan diambilnya.
9
Pimpinan yang demokratis memberikan sebahagian
wewenangnya kepada bawahan dan karyawan sesuai dengan kemampuan
dan potensi yang dimilikinya. Hal ini menyebabkan adanya rasa tanggung
jawab bersama dalam pengambilan keputusan dan kesepakatan yang telah
dibuat. Pendelegasian wewenang (distribusi wewenang) didasarkan atas
kecakapan dan pendidikan yang dimiliki dan bukan berasarkan
emosional.
10
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa ciri-ciri pemimpin model
ini adalah:
a. Mengakui dan menghargai bawahan dan karyawan.
b. Pelimpahan wewenang didasari atas potensi dan kemampuan yang
dimiliki oleh bawahan dan bukan atas dasar emosional atau
kekerabatan.
c. Berusaha untuk mensinkronkan tujuan organisasi (lembaga) dengan
tujuan individu di lembaga. Dengan kata lain tujuan individu diarahkan
agar sesuai dengan tujuan lembaga dengan menghindari benturan
kepentingan diantara mereka.
d. Berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses dari dirnya, dan
menjadi indikator keberhasilan kepemimpinan yang dilakukannya.
8
Fridayana Yudiaatmaja, ‘Kepemimpinan: Konsep, Teori Dan Karakternya’, Media
Komunikasi FIS, 12.2 (2013), pp. 33–34.
9
Thoha, Perilaku Organisasi Konsep Dasar Dan Implikasinya, pp. 37–40.
10
Yoto, ‘MODEL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN (Sebuah Kajian Teoritis)’, p. 13.
e. Adanya pelimpahan wewenang merupakan wujud dari kesediaan
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk bertanggung jawab
atas tugas yang telah dilaksanakan.
f. Bersikap sabar dan siap memberikan bantuan kepada siapapun
manakala diperlukan.
g. Kritik dan saran dijadikan masukan bagi peningkatan keberhasilan dan
pencapaian tujuan di lembaga.
11
Pengaruh yang akan tampak jika model ini diterapkan adalah:
a. Terciptanya iklim kerja yang kondusif
b. Bawahan dan karyawan termotivasi untuk bekerja secara maksimal.
c. Bekerja tanpa ada rasa tekanan, akan tetapi lebih didasari atas rasa
tanggung jawab pada pekerjaan yang diembannya.
12
4. Pseudo Demokratis
Makna dari kata pseudomokratis adalah pelaksanaan demokratis
secara semu, artinya pimpinan bersikap demokratis hanya dalam wujud
sikapnya saja, dan dibalik sikap tersebut ada satu kecenderungan untuk
bersikap absolute. Dengan kata lain sebenarnya pemimpin adalah seorang
autoritarium murni, hanya saja sikap yang ditampilkan seperti sikap
demokratis. Pimpinan dengan tipe ini selalu berusaha menonjolkan ide
idenya dengan cara yang telah dikondisikan. Adapun pelaksanaan rapat
hanya sekedar cara untuk mensyahkan ide-idenya. Saran ataupun
tanggapan dari bawahan tidak dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan.
Konsep keputusan dibuatnya sendiri dan untuk memanipulasinya dilakukan
pertemuan yang sebenarnya hanya untuk menyetujui konsep yang
dibuatnya.
13
Sifat-Sifat Kepemimpinan
Setiap orang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihankelebihan
yang dimilikinya dari pada orang yang dipimpin. Masing-masing
orang mempunyai kelebihan disamping kekurangan-kekurangan yang
11
Ibid, hal. 247.
12
Yudiaatmaja, p. 54.
13
Ibid, hal. 249.
dimilikinya. Dalam keadaan tertentu dan pada waktu tertentu kelebihankelebihan
itu
dapat
dipergunakannya
untuk
bertindak
sebagai
pemimpin.
Akan
tetapi
tidak semua orang dapat menggunakan kelebihannya itu untuk
memimpin.
14
Untuk menjadi pemimpin diperlukan adanya syarat-syarat tertentu. Dan
syarat-syarat serta sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin berbeda-beda
menurut golongan dan fungsi jabatan yang dipegangnya. Untuk menjadi
pemimpin perusahaan tidak mungkin sama dengan syarat dan sifat yang
diperlukan bagi pemimpin dalam ketentaraan. Demikian pula syarat-syarat
kepemimpinan yang diperlukan bagi seorang pemimpin industri tidak akan
sama dengan yang diperlukan bagi seorang pemimpin suatu lembaga
pendidikan.
15
Diantara sifat-sifat kepemimpinan yang baik yang harus dimiliki
oleh seorang pemimpin adalah sebagai berikut:
1. Rendah hati dan Sederhana
Seorang pemimpin pendidikan hendaknya jangan mempunyai
sikap sombong atau merasa lebih mengetahui dari pada yang lain. Ia
hendaknya lebih banyak mendengarkan dan bertanya dari pada berkata dan
menyuruh. Kelebihan pengetahuan dan kelebihan kesanggupan yang
dimilikinya hendaknya dipergunakan untuk membantu yang lain atau anak
buahnya, bukan untuk dipamerkan dan dijadikan kebanggaan.
2. Suka Menolong
Pemimpin hendaknya selalu siap sedia untuk membantu anggotaanggotanya
sekalipun tanpa dimintai bantuannya. Akan tetapi, bantuan
yang diberikan jangan sampai dirasakan sebagai paksaan sehingga orang
yang memerlukan bantuan itu justru menolaknya, meskipun dia sangat
memerlukannya. Demikian pula seorang pemimpin hendaknya selalu
bersedia (menyediakan waktu) untuk mendengarkan kesulitan-kesulitan
16
14
Refi Risnandar, ‘Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Pelaksanaan Tugas Manajerial,
Kewirausahaan Dan Supervisi’, pp. 37–38.
15
Yoto, p. 77.
16
M. Ngalim Purwanto. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja
Karya, 1987), hal. 57.
yang disampaikan oleh anggota-anggotanya meskipun dia mungkin tidak
akan dapat menolongnya. Hal ini sangat penting untuk mempertebal
kepercayaan anggota-angotanya bahwa ia benar-benar tempat berlindung
dan pembimbing mereka.
3. Sabar dan Kestabilan emosi
Seorang pemimpin pendidikan hendaklah memiliki sifat sabar,
jangan lekas merasa kecewa dan memperlihatkan kekecewaan dalam
menghadapi kegagalan atau kesukaran; dan sebaliknya jangan lekas
merasa bangga dan sombong jika kelompoknya berhasil.
17
Sifat ini akan
memberikan perasaan aman kepada anggota-anggotanya. Mereka tidak
merasa dipaksa, ditekan atau selalu dikejar-kejar dalam menjalankan
tugasnya. Mereka bebas membicarakan persoalan-persoalan diantara
mereka sendiri dan dengan pemimpinnya. Sifat tak sabar dan putus asa
pada seorang pemimpin akan menghilangkan ketenangan bekerja.
Anggota-anggotanya akan merasa tertekan jiwanya, sehingga hal ini tentu
akan mengurangi / mempengaruhi daya dan hasil kerja mereka.
18
4. Percaya diri
sendiri Seorang pemimpin hendaknya menaruh kepercayaan
sepenuhnya kepada anggota-angotanya; percaya bahwa mereka akan dapat
melaksanakan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Yang
dipiminnya harus merasa pula bahwa mereka mendapat kepercayaan yang
sepenuhnya untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepada
mereka. Kepercayaan pemimpin seperti inii hanya timbul atau ada pada
diri sindiri; percaya pada kesanggupan sendiri. Karena percaya pada
kemampuan dan kesanggupan sendiri, ia tidak memerlukan pengawasan
atas dirinya untuk melakukan apa yang telah diterimanya sebagai
19
17
Ibid, hal.58.
18
Yulianti, p. 44.
19
Marno, p. 51.
tugasnya. Iapun tidak merasa perlu untuk mengawasi anggota-anggota
kelompoknya.
20
Pemimpin yang percaya pada diri sendiri, dan yang dapat
menyatakan hal ini dalam sikap dan tingkah lakunya, akan menimbulkan
pula rasa percaya kepada diri anggota-anggota kelompoknya. Kerja sama
yang tidak didasarkan atas rasa percaya mempercayai tidak akan
membawa hasil yang memuaskan. Dan suasana saling mempercayai hanya
dapat diharapkan dari pemimpin yang cukup percaya pada dirinya sendiri
pula.
21
5. Jujur dan adil
Sikap percaya kepada diri sendiri pada anggota-anggota kelompok
dapat timbul karena adanya kepercayaan mereka terhadap pemimpinnya.
Karena mereka menaruh kepercayaan kepada pemimpinnya, mereka akan
menjalankan semua kewajiban dengan rasa patuh dan bertanggung
jawab.
22
6. Keahlian dalam jabatan
Untuk melaksanakan kepemimpinan, disamping sifat-sifat ang
telahdiuraikan tadi, harus pula didasarkan atas keahlian, yakni keahlian
dalam bidang pekerjaan yang dipimpinnya. Bagaimanapun besarnya
kesediaan kita untuk membantu kelompok dalam kesulitankesulitan
pekerjaan, tanpa mempunyai keahlian dalam bidang pekerjaan itu tidak
mungkin kita dapat memberi bantuan. Dengan demikian keahlian jabatan
merupakan syarat utama pula dalam kepemimpinan. Tanpa keahlian tak
mungkin menjadi pemimpin. Akan tetapi, janganlah pula diartikan bahwa
dengan keahlian jabatan saja sudah tentu kita dapat menjadi pemimpin.
Dengan adanya syarat-syarat kepemimpinan yang telah diuraikan diatas
menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan bukan hanya memerlukan
20
Imam Machali, ‘MODEL KEPEMIMPINAN SEKOLAH KELAS MENENGAH
MUSLIM DI YOGYAKARTA’, Edukasi, 16.3 (2018), p. 20.
21
A Mansur, ‘KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM PENINGKATAN
KINERJA GURU DI MAN SUMBOK KECAMATAN NIBONG ACEH UTARA’, Al-Fatih, 3.1
(2020), p. 36.
22
Yoto, p. 67.
kesanggupan dan kemampuan saja, tetapi yang lebih penting lagi adalah
kemauan dan kesediaan.
C. Temuan dan Pembahasan
1. Profil Kepala Madrasah MIS Muhammadiyah Dolopo
MI Muhammadiyah Dolopo adalah lembaga pendidikan swasta
yang setara dengan jenjang SD. MI Muhammadoyah Dolopo berlokasi di
Jl. Raya Dolopo No. 838 Madiun, Jawa Timur, Indonesia. Sekolah
mendapat status akreditasi A ini, melaksanakan pembelajaran dari pukul
07.00-14.00 WIB. Dengan sistem sekolah fullday bagi siswa kelas 3
hingga kelas 6. Dan pembelajaran pukul 07.00 – 12.00 bagi siswa kelas 1
dan kelas 2. MIS Muhammadiyah Dolopo yang saat ini memiliki 729
siswa, 18 guru, terbagi dalam 13 kelas, dengan 301 mata pelajaran dan 8
jenis kegiatan ekstrakulikuler. Sekolah yang telah mengalami pergantian
kepala madrasah sebanyak 5 kali semenjak berdirinya di tahun 1964.
Lembaga pendidikan swasta yang berdiri pada tanggal 1 Januari ini
berdiri dengan latar belakang dibutuhkannya pendidikan agama untuk
menghindari ancaman atheis yang dibawa oleh partai komunis di wilayah
Dolopo. Maka dirintislah MIS Muhammadiyah Dolopo oleh beberapa
pihak. Salah satunya adalah Abdullah yang menjadi kepala madrasah
pertama MI Muhammadiyah Dolopo. Setelah 4 tahun menjabat sebagai
kepala madrasah, tahun 1968-1976 amanah kepala madrasah diberikan
kepapa Masduqi. Setelah kepemimpinan Bpk. Masduqi MI
Muhammadiyah Dolopo dipimpin oleh M. Qodar Yasin selama kurang
lebih 13 tahun, yaitu sejak 1977-1990. Setelah itu madrasah dipimpin oleh
Hj. Siti Sulijah , dengan masa jabatan terlama diantara yang lainnya, yaitu
sejak 1991 sampai 2008. Setelah itu digantikan oleh Musli Suparmin,S.Pd
yang hanya menjabat 1 tahun.
Dan kini sekolah yang telah berumur kurang lebih 57 tahun ini
dipimpin oleh seorang kepala madrasah. Yaitu Bapak Supriyono yang
lahir di Magetan 05 Juni 1980. Yang saat ini berusia sekitar 41 tahun.
23
23
Ibid, hal.64.
Bapak Supriyono, S.Pd menjabat kepala madrasah semenjak tahun 2019
menggantikan kepala madrasah sebelumnya, yaitu Bpk. Musli Suparmin.
Bapak Supriyono menjabat sebagai kepala madrasah MIS Muhammadiyah
Dolopo di usianya yang ke 55 tahun. Sebelum menjabat sebagai kepala
madrasah, beliau adalah salah satu guru senior di MIS Muhammadiyah
Dolopo. Beliau dipilih sebagai kepala madrasah karena merupakan salah
satu guru senior yang dianggap pantas untuk memimpin madrasah.
Bpk. Supriyono mendapat gelar sarjana pendidikan setelah
menempuh program pendidikan strata 1 di Universitas Muhammadiyah
Ponorogo. Bapak dari 3 orang putri ini tinggal di Desa Kenongo,
Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan. Beliau menikah dengan
Bu Eva sekitar 12 tahun yang lalu. Saat ini putri sulungnya duduk di
bangku Madrasah Tsanawiyah dan putri keduanya duduk di bangku kelas
6 MIS Muhammadiyah Dolopo.
2. Tipe Kepemimpinan Kepala Mdrasah MIS Muhammadiyah Dolopo
Kepala madrasah MI Muhammadiyah Dolopo memiliki tipe
kepemimpinan otoriter. Yang semua keputusan terkait kegiatan di lembaga
sekolah ada di tangannya. Dan guru serta karyawan sekolah adalah
pelaksananya. Meskipun kepala madrasah sebelum mengambil keputusan
melakukan musyawarah dengan seluruh guru dan karyawan, namun
keputusan akhir ditentukan oleh kepala madrasah dan tidak bisa diganggu
gugat.
Data di atas sesuai dengan pernyataan bahwa Seorang pemimpin
yang memiliki tipe semacam ini akan cenderung bersikap selalu ingin
berkuasa dan tidak memberi kebebasan kepada para bawahan, dia
beranggapan bahwa dirinya merupakan pusat segalanya yang dapat
menentukan, mengarahkan, mengambil keputusan dan bawahan tidak
memiliki kemampuan seperti apa yang dimilikinya.
Dibeberapa kesempatan kepala madrasah melakukan musyawarah
24
hanya untuk mendapat persetujuan anggota sekolah lainnya terhadap suatu
24
Depag RI Dirjend Kelembagaan Islam, Modul dan Model.......opcit, hal. 245.
keputusan. Secara tidak langsung seluruh anggota sekolah dituntut untuk
mendukung semua keputusan yang telah kepala madrasah tetapkan.
Meskipun kepala madrasah membuka kesempatan kepada seluruh
anggotanya untuk memberi usulan, namun acap kali usulan tersebut
diabaikan.
Pernyataan di atas sesuai dengan ciri kepemimpinan Autoritarian
(Otoriter) yaitu hanya pemimpin yang berhak untuk menentukan tujuan
organisasi, karyawan hanya sebagai pelaksana kebijakan dari pimpinan
dan harus melaksanakan perintah yang diberikan pimpinan tanpa harus
bertanya. Dalam upaya menerapkan disiplin kepada bawahan dan
karyawan, metode yang diterapkan cenderung memaksa kepada para
bawahannya.
25
Kepala madrasah MIS Muhammadiyah Dolopo memilih untuk
melakukan sebuah kegiatan secara mandiri apabila anggota sekolah tidak
setuju dan enggan untuk melakukan kegiatan tersebut. Kepala madrasah
tidak segan untuk turun tangan demi mencapai tujuan kegiatan tertentu. Ini
menunjukkan minimnya partisipasi anggota sekolah dalam menentukan
kebijikan sekolah.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ciri-ciri kepemimpinan
Autoritarian (Otoriter) adalah dalam upaya menerapkan disiplin kepada
bawahan dan karyawan, metode yang diterapkan cenderung memaksa
kepada para bawahannya dan tidak menerima kritik, saran ataupun
pendapat bawahan.
26
Dilihat dari paparan di atas sebenarnya kepala madrasah MI
Muhammadiyah Dolopo memiliki tipe demokratis yang diwujudkan
dengan kegiatan musyawarah dalam menentukan sebuah kebijakan
sekolah. Namun dalam praktiknya lebih dominan pada tipe otoriter. Yang
dibuktikan dengan kepemilikan keputusan mutlak seorang pemimpin tanpa
dapat diganggu gugat. Sehingga sering kali anggota sekolah merasa
25
Depag RI Dirjend Kelembagaan Islam, Modul dan Model.......opcit, hal. 245.
26
Depag RI Dirjend Kelembagaan Islam, Modul dan Model.......opcit, hal. 245.
terpaksa atau keberatan terhadap keputusan yang kepala madrasah ambil
namun tidak dapat berbuat apa-apa.
3. Sifat-Sifat Kepemimpinan Kepala Madrasah MIS Muhammadiyah
Dolopo
Kepala madrasah MI Muhammadiyah Dolopo merupakan
pemimpin dengan sifat yang baik juga rendah hati. Hal tersebut dibuktikan
dengan sikapnya yang selalu mendengarkan pendapat bawahannya,
bahkan menerima kritik, saran dan masukan yang kadang diberikan oleh
bawahannya. Karena sifatnya yang rendah hati dan menerima kritk dan
sarandari semua orang menjadikan kepala madrasah MI Muhammadiyah
Dolopo pribadi yang selalu memperbaiki diri.
Pernyataan di atas sesuai dengan teori bahwa Seorang pemimpin
pendidikan hendaknya jangan mempunyai sikap sombong atau merasa
lebih mengetahui dari pada yang lain. Ia hendaknya lebih banyak
mendengarkan dan bertanya dari pada berkata dan menyuruh. Kelebihan
pengetahuan dan kelebihan kesanggupan yang dimilikinya hendaknya
dipergunakan untuk membantu yang lain atau anak buahnya, bukan untuk
dipamerkan dan dijadikan kebanggaan.
Dari beberapa kejadian menunjukkan bahwa beliau adalah orang
27
yang sabar dan mampu meregulasi emosinya dengan baik. Ini terbukti dari
bijaknya beliau saat menghadapi kesalahan atau kekurangan dari
bawahannya. Beliau bukanlah seseorang yang mudah marah terhadap
suatu hal. Pada beberapa kesempatan beliau lebih memilih melakukan
evaluasi terhadap anggotanya dan bukan memarahi, bila anggota
melakukan kesalahan.
Data di atas sesuai dengan teori bahwa seorang pemimpin
pendidikan hendaklah memiliki sifat sabar, jangan lekas merasa kecewa
dan memperlihatkan kekecewaan dalam menghadapi kegagalan atau
27
M. Ngalim Purwanto. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja
Karya, 1987), hal. 57.
kesukaran; dan sebaliknya jangan lekas merasa bangga dan sombong jika
kelompoknya berhasil.
28
Kepala MI Muhammadiyah Dolopo yang dikenal ringan tangan ini
kerap melakukan sesuatu seorang diri. Ini membuat kepala madrasah
kurang berwibawa. Selain itu kepala madrasah yang baik hati juga penuh
empati ini sangat jarang memarahi anggotanya bila ada salah. Maka kepala
madrasah terkesan kurang tegas dalam menindak anggotanya yang salah.
Data di atas sesuai dengan pernyataan bahwa pemimpin hendaknya
selalu siap sedia untuk membantu anggota-anggotanya sekalipun tanpa
dimintai bantuannya. Akan tetapi, bantuan yang diberikan jangan sampai
dirasakan sebagai paksaan sehingga orang yang memerlukan bantuan itu
justru menolaknya, meskipun dia sangat memerlukannya. Demikian pula
seorang pemimpin hendaknya selalu bersedia (menyediakan waktu) untuk
mendengarkan kesulitan-kesulitan yang disampaikan oleh anggotaanggotanya
meskipun
dia
mungkin
tidak
akan
dapat
menolongnya.
Hal
ini
sangat
penting
untuk
mempertebal
kepercayaan
anggota-angotanya
bahwa
ia
benar-benar
tempat
berlindung
dan
pembimbing
mereka.
Meskipun begitu kepala madrasah MI Muhammadiyah Dolopo
29
merupakan orang yang mudah bergaul, mudah membangun relasi, dan
terkesan akrab kepada semua orang. Sifat ramah yang dimiliki oleh kepala
madrasah ini yang selalu berusaha ia tularkan kepapa anggotanya yang
lain. Ramah, santun, dan sopan menjadi ciri khas kepala madrasah MI
Muhammadiyah Dolopo.
D. Kesimpulan
Kepala madrasah MIS Muhammadiyah Dolopo merupakan pemimpin
madrasah yang menerapkan tipe kepemimpinan otokratis. Dengan
menempatkan segala keputusan ada di tangan kepala madrasah, dan guru
sebagai pelaksana. Sedangkan sifat-sifat yang ada pada kepala madrasah MIS
28
Yulianti, p. 44.
29
Ibid, hal.58.
Muhammadiyah Dolopo adalah baik dan rendah hati, sabar dan mampu
meregulasi emosinya, ringan tangan, dan ramah.
DAFTAR PUSTAKA
Ekowati, Elfi Rusdiana, ‘MODEL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN GURU DI SMK
MUHAMMADIYAH SE- KABUPATEN MAGELANG’, Tesis, 2020
Machali, Imam, ‘MODEL KEPEMIMPINAN SEKOLAH KELAS MENENGAH
MUSLIM DI YOGYAKARTA’, Edukasi, 16 (2018)
Mansur, A, ‘KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH DALAM
PENINGKATAN KINERJA GURU DI MAN SUMBOK KECAMATAN
NIBONG ACEH UTARA’, Al-Fatih, 3 (2020)
Marno, Manajemen Dan Kepemimpinan Pendidikan Islam (Bandung: Refika
Aditama, 2008)
Risnandar, Refi, ‘Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Pelaksanaan Tugas
Manajerial, Kewirausahaan Dan Supervisi’
Thoha, Miftah, Pembinaan Organisasi, Proses Dianosa Dan Intervensi,
Manajemen Kepemimpinan (Yogyakarta: Gava Media, 2010)
———, Perilaku Organisasi Konsep Dasar Dan Implikasinya (Jakarta: Rajawali
Press, 2012)
Yoto, ‘MODEL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH PADA SEKOLAH
MENENGAH KEJURUAN (Sebuah Kajian Teoritis)’
Yudiaatmaja, Fridayana, ‘Kepemimpinan: Konsep, Teori Dan Karakternya’,
Media Komunikasi FIS, 12 (2013)
Yulianti, Yuni, ‘Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Meningkatkan Kinerja
Guru Di Mi Nw 02 Kembang Kerang Kecamatan Aikmel Lombok Timur’,
Jurnal Manajemen Dan Budaya, 1 (2021)
Komentar
Posting Komentar