DINAMIKA DAN KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI

 

DINAMIKA DAN KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI

Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Perilaku Organisasi Dan Kepemimpinan Pendidikan Islam

 

 

Diampu oleh:

Dr. Nur Kholis, M.Ag.

 

JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

 PONOROGO

2021

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.    Latar Belakang masalah

Dalam suatu organisasi, unsur manusia menjadi salah satu sumber penentu bagi perubahan dan jalannya organisasi tersebut. Pada konteks ini manusia difahami sebagai alat pencapa tujuan, juga sebagai salah satu target. Artinya, manusialah yang mengggerakkan organisasi, dan manusia pula yang menjadi tujuan; entah kesejahteraannya ataupun tingkat pemahamannya. Terkait dengan keberhasilan proses prganisasi, maka unsur pemimpin memegang peranan yang sangat penting.

Kepemimpinan (leadership) dalam suatu organisasi, lembaga atau institusi mempunyai peranan yang sangat penting. Karena tanpa adanya kepemimpinan, kumpulan orang dan sistem kerja yang ada didalamnya hanya akan merupakan suatu kumpulan yang tidak berarti. Dengan demikian tujuan organisasi yang telah direncanakan dengan matang tidak akan tercapai.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan yang dialami sebagian besar organisasi ditentukan oleh kualitas kepemimpinan, yang diserahi tugasnya mampu atau tidak dalam memimpin organisaasi tersebut.[1]

Lembaga pendidikan adalah merupakan salah satu dari sekian banyak organisasi, yang dalam kegiatan sehari-hari tidak lepas dari peran seorang pemimpin untuk mengendalikan jalannya proses pendidikan agar tujuan pendidikan yang telah diprogramkan dapat tercapai dengan sebaik-baiknya.

Oleh karena itu dalam makalah ini pemakalah mengangkat tema yang berjudul ” Dinamika Dan Fungsi Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam”. Dengan harapan makalah ini mampu menjadi sumbangan pemikiran bagi seorang pemimpin suatu organisasi, khususnya Lembaga Pendidikan Islam sehingga apa yang menjadi tujuan dari organisasi tersebut dapat tercapai

B.     RUMUSAN MASALAH

 Berdasarkan sedikit uraian masalah diatas, maka dapat dibuatkan rumusan masalah sebagai berikut:

1.    Bagaimanakah pengertian dari dinamika dan kepemimpinan dalam organisasi?

2.    Bagaimakah konsep dasar kepemimpinan dalam organisasi?

3.    Bagaimanakah peranan seorang pemimpin dalam organisasi?

C.      TUJUAN

Dari rumusan masalah diatas, maka dapat ditarik suatu tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu:

1.    Untuk mengetahui kengertian dari dinamika dan kepemimpinan dalam organisasi!

2.    Untuk mengetahui konsep dasar kepemimpinan dalam organisasi!

3.    Untuk mengetahui peranan seorang pemimpin dalam organisasi!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

 PEMBAHASAN MASALAH

 

A.      Pengertian dinamika dan kepemimpinan dalam organisasi

Dinamika kepemimpinan adalah sebuah gerakan atau kekuatan yang dimiliki oleh sekumpulan orang di masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan dalam tata hidup masyarakat yang bersangkutan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dinamika kepemimpinan dapat berkembang sesuai dengan situasi kehidupan manusia yang bersifat dinamis.

Pengertian Kepemimpinan adalah  manusia merupakan makhluk sosial yang berorganisasi yang hidup berkelompok, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa yang mempunyai tujuan yang sama yaitu membutuhkan pemimpin. Semua hal ini tidak lepas dari kehidupan manusia dalam melakukan interaksi. Agar kelompok atau organisasi berjalan dengan baik maka dilakukan secara bersama-sama dan membutuhkan penggerak, teladan, pembimbing, pemimpin yang dapat melancarkan tujuan dari sebuah kelompok atau organisasi. Dengan adanya sebuah penggerak maka kelompok atau organisasi akan berjalan efektif, dan untuk membuat hal itu menjadi efektif maka dibutuhkan seorang yang mampu mempengaruhi kelompok melalui pencapaian misi atau penetapan tujuan dan mempunyai pandangan kedepan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Menurut Deden Kusnadi (2010) Pemimpin di dalam suatu kelompok adalah menunjuk kepada orang yang mempunyai wewenang/hak/otonomi untuk menjalankan tugas kepemimpinan. Atau, orang yang berhasil membuat orang lain mengikuti dia. Di sisi lain, pemimpin bisa diartikan sebagai orang yang berhasil membimbing orang lain. Selanjutnya juga pemimpin bisa diartikan (menunjuk) sebagai orang yang paling gigih atau paling keras menjaga norma-norma dan nilai-nilai kelompok dan berhasil menggerakkan anggota kelompoknya.[2]

Pengertian organisasi Istilah organisasi memiliki dua arti umum. Pertama, mengacu pada suatu lembaga (institution) dan arti kedua mengacu pada proses pengorganisasian, sebagai satu di antara dari fungsi manajemen.Secara konsep, ada dua batasan yang perlu dikemukakan, yakni istilah  organizing sebagai kata benda dan organizing (pengorganisasian) sebagai kata kerja, menunjukan pada rangkaian aktivitas yang harus dilakukan secara sistematis.

Menurut Prof. Dr. Sondang P. Siagian, organisasi adalah suatu bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan dan dalam ikatan itu terdapat seorang atau sekelompok orang yang disebut bawahan.

Sedangkan dalam arti umum, organisasi adalah sebuah wadah untuk sekumpulan orang yang bekerja sama secara rasional serta sistematis yang terpimpin atau terkendali untuk mencapai tujuan tertentu memanfaatkan sumber daya yang ada di dalamnya.

B.     Konsep dasar kepemimpinan dalam organisasi

Pengertian dari dinamika dan kepemimpinan dalam organisasi Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang yang diarahkan terhadap pencapaian tujuan organisasi. Menurut Sutisna sebagaimana dikutip Sulistyorini merumuskan kepemimpinan sebagai “proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu”. Sementara Soepardi mendefinisikan kepemimpinan sebagai “ kemampuan untuk menggerakkan, mempengaruhi, memotivasi, mengajak, mengarahkan, menasehati, membimbing, menyuruh, memerintah, melarang dan bahkan menghukum (kalau perlu), serta membina dengan maksud agar manusia sebagai media manajemen mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan administrasi secara efektif dan efisien”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sedikitnya mencakup tiga hal yang saling berhubungan, yaitu adanya pemimpin dan karakteristiknya; adanya pengikut; serta adanya situasi kelompok tempat pemimpin dan pengikut berinteraksi.

Unsur-unsur yang terlibat dalam situasi kepemimpinan adalah: 1) orang yang dapat mempengaruhi orang lain di satu pihak, 2) orang yang dapat pengaruh di lain pihak, 3) adanya maksud-maksud atau tujuan-tujuan tertentu yang hendak dicapai, 4) adanya serangkaian tindakan tertentu untuk mempengaruhi dan untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu itu.[3]

Adapun konsep dasar kepemimpinan dalam organisasi meliputi : tipe-tipe kepemimpinan, sifat-sifat kepemimpinan dan faktor kepemimpinan.

1.      Tipe-tipe Kepemimpinan

Bentuk-bentuk kepemimpinan sering kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat maupun dalam lembaga pendidikan. Sesuai dengan situasi sekarang dimana kita berada, ditengah-tengah perjuangan menuju kesuksesan tujuan pendidikan, maka tidak bisa lepas dan selalu membutuhkan tipe-tipe pemimpin ideal.

Sebagai pemimpin pendidikan yang official leader, yang mana cara kerja dan cara bergaulnya dipertanggungjawabkan dan bisa menggerakkan orang lain unnuk turut serta mengerjakan sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.

Tipe kepemimpinan itu merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh karena itu kepemimpinan seseorang dapat mempengaruhi perilaku orang lain. Demikian pula untuk disiplin pegawai (bawahan) akan dapat dipengaruhi pula oleh sikap dan tindakan atasan atau pimpinannya. Hubungan antara pimpinan dan anggota sebagian bisa ditentukan oleh kepemimpinan dan tingkah laku pemimpin itu sendiri. sebagaimana dikutip dalam buku Modul dan Model Pelatihan Pengawas Pondasi disebutkan bahwa tipe kepemimpinan itu ada 4 jenis, yaitu:

a.       Tipe Autoritarian (Otoriter)

Seorang pemimpin yang memiliki tipe semacam ini akan cenderung bersikap selalu ingin berkuasa dan tidak memberi kebebasan kepada para bawahan, dia beranggapan bahwa dirinya merupakan pusat segalanya yang dapat menentukan, mengarahkan, mengambil keputusan dan bawahan tidak memiliki kemampuan seperti apa yang dimilikinya. Pemimpin sebagai satu-satunya penentu kebijakan yang ada di kantor dan harus dilaksanakan oleh para bawahan.

 Ciri-ciri kepemimpinan Autoritarian (Otoriter):

(a). Hanya pemimpin yang berhak untuk menentukan tujuan organisasi

(b). Lembaga yang dipimpinnya seolah-olah menjadi milik pribadinya.

(c). Karyawan hanya sebagai pelaksana kebijakan dari pimpinan dan harus melaksanakan perintah yang diberikan pimpinan tanpa harus bertanya.

(d). Dalam upaya menerapkan disiplin kepada bawahan dan karyawan, metode yang diterapkan cenderung memaksa kepada para bawahannya.

(e). Tidak menerima kritik, saran ataupun pendapat bawahan.

(f). Iinisiatif dari bawahan ditanggapi sebagai sesuatu yang menyimpang dari kebijakan dan ini merupakan kesalahan.

(g). Keputusan pemimpin merupakan satu kebijakan yang terbaik.

(h). Bawahan / karyawan bekerja dalam tekanan dan dibawah bayang-bayang hukuman pimpinan.

(i). Keberhasilan bawahan dianggap sebagai ancaman terhadapreputasinya.[4]

Dengan melihat pada ciri-ciri diatas, maka dampak yang dapat ditimbulkannya adalah:

(a). Bawahan menjadi penurut (walau kadang terpaksa).

(b). Bawahan tak mampu (takut) untuk berinisiatif.

(c). Bawaha takut mengambil keputusan bahkan yang menyangkut dirinya sendiri.

(d). Lembaga menjadi statis.

b. Tipe Laizzes – Faire

Pemimpin yang cenderung bertipe Laizzes – Faire ini mengartikan kebebasan yang keliru, sehingga bawahan bekerja dibiarkan semau mereka sendiri tanpa ada kontrol. Kebebasan bagi pemimpin ini merupakan kebebasan yang mutlak dan harus dimiliki oleh setiap orang termasuk bawahannya.

Menurut konsep tipe ini, anggota bekerja menurut kehendaknya sendiri tanpa adanya pedoman kerja yang baik yang dibuat oleh pemimpin. Pemimpin lembaga yang bertipe ini berkeyakinan bahwa dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahan akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pimpinan mendelegasikan mendelegasikan seluruh wewenangnya kepada bawahannya tanpa memberikan pedoman cara pelaksanaannya. Sedangkan tugas bawahan bertugas menentukan sendiri bagaimana pelaksanaan pekerjaan tersebut. Adapun yang dilakukan pemimpin hanya menonton apa yang dilaksanakan para bawahannya. Interaksi antara pimpinan sebagai pemimpin dan bawahan serta karyawan sebagai bawahan sangat terbatan. Jadi, fungsi kepala hanya sekedar simbol pemimpin belaka. Ciri-ciri kepemimpinan tipe Laizzez – Faire adalah:

(a). Keputusan lebih banyak tergantung pada bawahan

(b). Dalam melaksanakan suatu kegiatan terkadang tidak memi,iki agenda yang pasti dan dapat dilaksanakan tanpa sepengatuan pimpinan

(c).  Jika Dalam kegiatan rapat terjadi pertentangan, pimpinan tidak berusaha untuk mempertemukan pendapat dari para bawahan, dengan anggapan bahwa hal ini akan mengurangi rasa kebebasan bawahan tersebut.

(d). Berusaha untuk tidak mengatur bawahan dan karyawan secara ketat, bahkan terkadang adanya peraturan hanya sekedar sebagai pelengkap organisasi yang tidak perlu dijalankan.[5]

Melihat pada ciri-cirinya, maka dampak yang mungkin ditimbulkan adalah sebagai berikut:

1) Adanya kebebasan dalam menentukan kegiatan membuat pencapaian tujuan tidak jelas

2) Sering terjadi ovelapping tugas (tumpang tindih) antara karyawan satu dengan karyawan lain, mengingat yang berhak menentukan tugas tersebut adalah bawahan atau karyawan itu sendiri. Sehingga jika ada pekerjaan yang dirasakan berat akan terjadi saling melempar dari bawahan atau karyawan satu kepada yang lainnya (kekosongan pekerjaan)

 3) Di sisi laiin terjadi kelambanan pekerjaan, hal ini karena memperebutkan tugas yang lebih ringan dan mudah.

4) Mengingat kontrol ari atasan hampir tidak ada, maka bawahan dan karyawan kurang termotivasi untuk mencapai tujuan yang optimal.

5) Bawahanan atau karyawan tidak memiliki inisiatif untuk menyelesaikan satu pekerjaan yang diluar kemampuannya, karena bimbingan dari atasannya tidak ada.

c. Tipe Demokratis

                   Bentuk ideal tipe kepemimpinan yang diharapkan adalah tipe pemimpin yang demokratis. Seorang pemimpin yang demokratis cenderung berusaha mengikutsertakan bawahan dan karyawannya dalam proses pengambilan keputusan.

                   Dengan kalimat lain pimpinan menghargai, bahwa seseorang memiliki potensi khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain, sehingga apapun adanya meraka tetap memiliki kontribusi dalam satu keputusan yang akan diambilnya.

                   Pimpinan yang demokratis memberikan sebahagian wewenangnya kepada bawahan dan karyawan sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya. Hal ini menyebabkan adanya rasa tanggung jawab bersama dalam pengambilan keputusan dan kesepakatan yang telah dibuat. Pendelegasian wewenang (distribusi wewenang) didasarkan atas kecakapan dan pendidikan yang dimiliki dan bukan berasarkan emosional.

                   Dalam proses kepemimpinannya, seorang pemimpin lebih mementingkan kepentingan bersama dibanding dengan kepentingan individu. Adanya proses yang demikian menyebabkan terjadinya satu iklim kerja (organization climate) yang sihat, terciptanya kondisi kerja yang kondusif, saling membantu antar bawahan dan karyawan, bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi; yang kesemuanya diupayakan untuk pencapaian tujuan lembaga.

                   Azas utama yang dipegang pimpinan dengan tipe demokratis ini adalah musyawarah, sihingga segala sesuatu diselesaikan dengan musyawarah dan kekeluargaan. Penghargaan pimpinan terhadap bawahan dan karyawan didasari atas penghargaan personal dan potensi yang dimilikinya bukan atas dasar emosional saja.

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa ciri-ciri pemimpin model ini adalah:

1). Mengakui dan menghargai bawahan dan karyawan.

2) Pelimpahan wewenang didasari atas potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh bawahan dan bukan atas dasar emosional atau kekerabatan.

3) Berusaha untuk mensinkronkan tujuan organisasi (lembaga) dengan tujuan individu di lembaga. Dengan kata lain tujuan individu diarahkan agar sesuai dengan tujuan lembaga dengan menghindari benturan kepentingan diantara mereka.

4) Berusaha untuk menjadikan bawahan lebih sukses dari dirnya, dan menjadi indikator keberhasilan kepemimpinan yang dilakukannya.

5) Adanya pelimpahan wewenang merupakan wujud dari kesediaan memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk bertanggung jawab atas tugas yang telah dilaksanakan.

6) Bersikap sabar dan siap memberikan bantuan kepada siapapun manakala diperlukan.

7) Kritik dan saran dijadikan masukan bagi peningkatan keberhasilan dan pencapaian tujuan di lembaga.[6]

Pengaruh yang akan tampak jika model ini diterapkan adalah:

1) Terciptanya iklim kerja yang kondusif

2) Bawahan dan karyawan termotivasi untuk bekerja secara maksimal.

3) Bekerja tanpa ada rasa tekanan, akan tetapi lebih didasari atas rasa tanggung jawab pada pekerjaan yang diembannya.

d.  Tipe Pseudo Demokratis

       Makna dari kata pseudomokratis adalah pelaksanaan demokratis secara semu, artinya pimpinan bersikap demokratis hanya dalam wujud sikapnya saja, dan dibalik sikap tersebut ada satu kecenderungan untuk bersikap absolute. Dengan kata lain sebenarnya pemimpin adalah seorang autoritarium murni, hanya saja sikap yang ditampilkan seperti sikap demokratis. Pimpinan dengan tipe ini selalu berusaha menonjolkan ide idenya dengan cara yang telah dikondisikan. Adapun pelaksanaan rapat hanya sekedar cara untuk mensyahkan ide-idenya. Saran ataupun tanggapan dari bawahan tidak dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan. Konsep keputusan dibuatnya sendiri dan untuk memanipulasinya dilakukan pertemuan yang sebenarnya hanya untuk menyetujui konsep yang dibuatnya.[7]

2.      Sifat-sifat Kepemimpinan

Setiap orang yang diangkat menjadi pemimpin didasarkan atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dari pada orang yang dipimpin. Masing-masing orang mempunyai kelebihan disamping kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Dalam keadaan tertentu dan pada waktu tertentu kelebihan-kelebihan itu dapat dipergunakannya untuk bertindak sebagai pemimpin. Akan tetapi tidak semua orang dapat menggunakan kelebihannya itu untuk memimpin.

Untuk menjadi pemimpin diperlukan adanya syarat-syarat tertentu. Dan syarat-syarat serta sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin berbeda-beda menurut golongan dan fungsi jabatan yang dipegangnya. Untuk menjadi pemimpin perusahaan tidak mungkin sama dengan syarat dan sifat yang diperlukan bagi pemimpin dalam ketentaraan. Demikian pula syarat-syarat kepemimpinan yang diperlukan bagi seorang pemimpin industri tidak akan sama dengan yang diperlukan bagi seorang pemimpin suatu lembaga pendidikan.

Diantara sifat-sifat kepemimpinan yang baik yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah sebagai berikut:

1.        Rendah hati dan sederhana

 Seorang pemimpin pendidikan hendaknya jangan mempunyai sikap sombong atau merasa lebih mengetahui dari pada yang lain. Ia hendaknya lebih banyak mendengarkan dan bertanya dari pada berkata dan menyuruh.

Kelebihan pengetahuan dan kelebihan kesanggupan yang dimilikinya hendaknya dipergunakan untuk membantu yang lain atau anak buahnya, bukan untuk dipamerkan dan dijadikan kebanggaan.[8]

2.      Bersifat suka menolong

Pemimpin hendaknya selalu siap sedia untuk membantu anggota-anggotanya sekalipun tanpa dimintai bantuannya. Akan tetapi, bantuan yang diberikan jangan sampai dirasakan sebagai paksaan sehingga orang yang memerlukan bantuan itu justru menolaknya, meskipun dia sangat memerlukannya.

Demikian pula seorang pemimpin hendaknya selalu bersedia (menyediakan waktu) untuk mendengarkan kesulitan-kesulitan yang disampaikan oleh anggota-anggotanya meskipun dia mungkin tidak akan dapat menolongnya. Hal ini sangat penting untuk mempertebal kepercayaan anggota-angotanya bahwa ia benar-benar tempat berlindung dan pembimbing mereka.[9]

3.      Sabar dan memiliki kestabilan emosi

Seorang pemimpin pendidikan hendaklah memiliki sifat sabar, jangan lekas merasa kecewa dan memperlihatkan kekecewaan dalam menghadapi kegagalan atau kesukaran; dan sebaliknya jangan lekas merasa bangga dan sombong jika kelompoknya berhasil.

Sifat ini akan memberikan perasaan aman kepada anggota-anggotanya. Mereka tidak merasa dipaksa, ditekan atau selalu dikejar-kejar dalam menjalankan tugasnya. Mereka bebas membicarakan persoalan-persoalan diantara mereka sendiri dan dengan pemimpinnya. Sifat tak sabar dan putus asa pada seorang pemimpin akan menghilangkan ketenangan bekerja. Anggota-anggotanya akan merasa tertekan jiwanya, sehingga hal ini tentu akan mengurangi / mempengaruhi daya dan hasil kerja mereka.

4.      Percaya kepada diri

 sendiri Seorang pemimpin hendaknya menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada anggota-angotanya; percaya bahwa mereka akan dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Yang dipiminnya harus merasa pula bahwa mereka mendapat kepercayaan yang sepenuhnya untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka.

Kepercayaan pemimpin seperti inii hanya timbul atau ada pada diri sindiri; percaya pada kesanggupan sendiri. Karena percaya pada kemampuan dan kesanggupan sendiri, ia tidak memerlukan pengawasan atas dirinya untuk melakukan apa yang telah diterimanya sebagai tugasnya. Iapun tidak merasa perlu untuk mengawasi anggota-anggota kelompoknya.

Pemimpin yang percaya pada diri sendiri, dan yang dapat menyatakan hal ini dalam sikap dan tingkah lakunya, akan menimbulkan pula rasa percaya kepada diri anggota-anggota kelompoknya.

Kerja sama yang tidak didasarkan atas rasa percaya mempercayai tidak akan membawa hasil yang memuaskan. Dan suasana saling mempercayai hanya dapat diharapkan dari pemimpin yang cukup percaya pada dirinya sendiri pula

5.      Jujur, adil dan dapat dipercaya

 Sikap percaya kepada diri sendiri pada anggota-anggota kelompok dapat timbul karena adanya kepercayaan mereka terhadap pemimpinnya. Karena mereka menaruh kepercayaan kepada pemimpinnya, mereka akan menjalankan semua kewajiban dengan rasa patuh dan bertanggung jawab.

6.      Keahlian dalam jabatan

Untuk melaksanakan kepemimpinan, disamping sifat-sifat ang telahdiuraikan tadi, harus pula didasarkan atas keahlian, yakni keahlian dalam bidang pekerjaan yang dipimpinnya. Bagaimanapun besarnya kesediaan kita untuk membantu kelompok dalam kesulitankesulitan pekerjaan, tanpa mempunyai keahlian dalam bidang pekerjaan itu tidak mungkin kita dapat memberi bantuan.

Dengan demikian keahlian jabatan merupakan syarat utama pula dalam kepemimpinan. Tanpa keahlian tak mungkin menjadi pemimpin. Akan tetapi, janganlah pula diartikan bahwa dengan keahlian jabatan saja sudah tentu kita dapat menjadi pemimpin.

Dengan adanya syarat-syarat kepemimpinan yang telah diuraikan diatas menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan bukan hanya memerlukan kesanggupan dan kemampuan saja, tetapi yang lebih penting lagi adalah kemauan dan kesediaan.[10]

3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kepemimpinan

Meskipun diantara pemimpin banyak yang memiliki keahlian dan jabatan dalam pekerjaan yang sama, selalu kita lihat adanya perbedaan-perbedaan dalam perilaku dan sikap serta gaya kepemimpinannya. Hal ini disebabkan karena adanya berbagai faktor yang dapat mempengaruhinya.

Adapun fator-faktor yang pada umumnya dominan mempengaruhi perilaku seorang pemimpin adalah:

1.       Keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya.

Keahlian dan pengetahuan yang dimaksud disini adalah latar belakang pendidikan atau ijazah yang dimilikinya, sesuai atau tidaknya latar belakang pendidikan itu dengan tugas-tugas kepemimpinan yang menjadi tanggung jawabnya; pengalaman kerja sebagai pemimpin, apakah pengalaman yang telah dilakukannya itu mendorong dia uuntuk berusaha memperbaiki dan mangembangkan kecakapan dan ketrampilannya dalam memimpin.

2.       Jenis pekerjaan atau lembaga tempat pemimpin itu melaksanakan tugas jabatannya.

Perilaku dan sikap seorang yang sedang memimpin anak buah dalam kapal yang sedang tenggelam, tidak sama dengan perilaku dan sikap seorang guru yang sedang memimpin diskusi di dalam kelas. Perilaku dan sikap seorang pemimpin perusahaan sudah tentu lain dengan perilaku dan sikap seorang kepala sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing.

3.       Sifat-sifat kepribadian pemimpin

Secara psikologis, manusia itu mempunyai sifat, watak dan kepribadian yang berbeda-beda. Ada yang selalu dapat bersikap dan bertindak keras dan tegas, tetapi ada pula yang yang lemah dan kurang berani.

Dengan adanya perbedaan-perbedaan watak dan kepribadian yang similiki masing-masing pemimpin, meskipunbeberapa orang pemimpin memiliki latar belakang pendidikan sama dan diserahi tugas memimpin lembaga yang sejenis, maka hasil yang diperolehnya akan berbeda pula. Dengan demikian watak dan sifat-sifat kepribadian seorang pemimpin turut menentukan bagaimana sikap dan perilakunya dalam menjalankan kepemimpinannya.

4.       Sifat-sifat kepribadian pengikut atau kelompok yang dipimpinnya

Seorang yang memimpin anak-anak kecil, berlainan perilakunya dengan orang yang memimpin orang dewasa. Demikian pula memimpin orang-orang buta huruf dan buta pengetahuan, tidak sama dengan cara memimpin orang-orang yang cerdik pandai.

Seorang kepala sekolah yang mempunyai anak buah guru-guru yang pada umumnya berpendidikan sarjana, akan bersikap dan berperilaku tidak sama dengan kepala sekolah yang mempunyai anak buah guru-guru yang berpendidikan SLTA atau D 2

 Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa perbedaan umur, tingkat pendidikan danjenis kelamin, menentukan dan mempengaruhi perbedaan sifat-sifat individu maupun kelompok. Dengan perbedaan tersebut seorang pemimpin dapat menentukan bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap dan berperilaku dalam menjalankan kepemimpinannya.

Tentang sifat-sifat kepengikutan, yaitu mengapa dan bagaimana anggota kelompok menerima dan mau menjalankan perintah atau tugas-tugas yang diberikan oleh pemimpin, dibedakan mejadi lima maca, yaitu:

1). Kempengikutan karena aluri dan nafsu

2). Kepengikutan karena tradisi dan adat

3). Kepengikutan karena agama dan budi nurani

 4). Kepengikutan karena rasio

5 ). karena peraturan hukum.

5.       Sangsi-sangsi yang ada di tangan pemimpin

Kekuatan yang dimiliki atau yang ada di belakang pemimpin menentukan sikap dan tingkah lakunya. Sikap atau reaksi angggota kelompok dari seorang pemimpin yang mempunyai wewenang penuh akan lain jika dibandingkan dengan sikap atau reaksi anggota kelompok dari seorang pemimpin yang tidak atau kurang berwenang.

Seorang guru yang baru ditunjuk sebagai pejabat pimpinan sekolah akan bertindak dan berperilaku lain dengan seorang kepala sekolah yang telah resmi diangkat dengan surat keputusan dari atasan. Seorang pemimpin suatu lembaga yang diangkat dengan surat keputusa presiden, akan lain rasa kemantapannya dengan seorang pemimpin lembaga yang diangkat dengan surat keputusan gubernur.

Jadi, tinggi rendahnya tingkat kekuasaan dan atau perangkat perundang-undangan, akan menentukan tinggi endahnya kekuatan atau sangsi seorang pemimpin yang diangkat oleh penguasa atau berdasarkan perundang-undangan tersebut.

 

C.   peranan seorang pemimpin dalam organisasi

Seorang pemimpin pendidikan dituntut untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang berkaitan dengan kepemimpinan pendidikan dengan sebaik mungkin, termasuk di dalamnya sebagai pemimpin pengajaran. Harapan yang segera muncul dari kalangan guru, siswa, staf administrasi, pemerintah dan masyarakat adalah agar kepala sekolah dapat melaksanakan tugas dan kepemimpinannya dengan seefektif mungkin untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan yang diemban dalam mengoperasionalkan sekolah., selain itu juga memberikan perhatian kepada pengembangan individu dan organisasi.

Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan mempunyai tugas dan menjalankan fungsi-fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengkoordinasian, pengawasan dan evaluasi. Pelaksanaan fungsi-fungsi pokok manajemen tersebut memerlukan adanya komunikasi dan kerja sama yang efektif antara kepala sekolah dan seluruh stafnya. Dengan demikian, kepala sekolah mempunyai peran yang sangat penting dan menjadi kunci atas keberhasilan terhadap sekolah yang dipimpinnya. Oleh karena itu, seorang kepala sekolah yang efektif adalah kepala sekolah yang mempunyai kemampuan manajerial yang handal dan visioner, yaitu mampu mengelola sekolah dengan baik dan mempunyai gambaran mental tentang masa depan yang diacu bagi sekolah yang dipimpinnya.[11]

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa peran dan tanggung jawab kepala sekolah pada hakekatnya erat dengan administrasi atau manajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan supervisi pendidikan.

1.       Kepala Sekolah sebagai Pemimpin (Leader) Pendidikan

Perubahan dalam peranan dan fungsi sekolah dan statis di jaman lampau kepada yang dinamis dan fungsional-konstruktif di era pembangunan, membawa tanggung jawab yang lebih luas kepada kepala sekolah.

Menurut Hanson sebagaimana dikutip Sulistyorini, pada dasarnya istilah kepemimpinan itu dipahami sebagai suatu konsep yang didalamnya mengandung makna bahwa ada proses kekuatan yang datang dari seseorang (pemimpin) untuk mempengaruhi orang lain, baik secara individu maupun secara kelompok dalam organisasi. Adapun menurut Koontz, O’Donnel dan Weihrich antara lain dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan secara umum, merupakan pengaruh, seni atau proses mengetahui orang lain, sehingga mereka dengan penuh kemauan berusaha ke arah tercapainya tujuan organisasi.

2.      Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Manajer Pendidikan

Peranan kepala sekolah sebagai administrator pendidikan pada hakikatnya bahwa seorang kepala sekolah harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan nyata masyarakat serta kesediaan dan keterampilan untuk mempelajari secara kontiniyu perubahan yang sedang terjadi di masyarakat sehingga sekolah melalui program-program pendidikan yang disajikan senantiasa dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan baru dan kondisi baru.[12]

Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengajaran di sekolahnya. Oleh karena itu, untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, kepala sekolahnya hendaknya memahami, menguasai, dan mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkenaan dengan fungsinya sebagai administrator pendidikan. Dalam kegiatan administrasi terkandung di dalamnya fungsi-fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengordinasian, pengawasan, kepegawaian, dan pembiayaan. Kepala sekolah sebagai administrator hendaknya mampu mengaplikasikan fungsi-fungsi tersebut ke dalam pengelolaan sekolah yang dipimpinnya.

Peran kepala sekolah sebagai manajer pada suatu lembaga pendidikan Islam sangat diperlukan, sebab lembaga sebagai alat mencapai tujuan organisasi di mana di dalamnya berbagai macam pengetahuan, serta lembaga pendidikan yang menjadi tempat untuk membina dan mengembangkan karir-karir sumber daya manusia, memerlukan manajer yang mampu untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengendalikan agar lembaga dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

3.      Kepala Sekolah sebagai Supervisor

Supervisi adalah suatu aktifitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif. Supervisi sebagai salah satu fungsi pokok dalam administrasi pendidikan, bukan hanya merupakan tugas pekerjaan para pengawas, tetapi juga tugas kepala sekolah terhadap guru-guru dan pegawai-pegawai sekolahnya.[13]

Sehubungan dengan itu, maka kepala sekolah sebagai supervisor hendaknya pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan pendidikan di sekolah itu tercapai dengan maksimal.

Dalam melaksanakan tugas sebagai supervisor. Kepala sekolah perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

a.       Supervisi harus bersifat konstruktif dan kreatif sehingga menimbulkan dorongan untuk bekerja.

b.      Realitas dan mudah dilaksanakan

c.       Menimbulkan rasa aman kepada guru/ karyawan

d.      Berdasarkan hubungan professional

e.        Harus memperhitungkan kesanggupan dan sikap guru/ karyawan

f.        Tidak bersifat mendesak (otoriter) karena dapat menimbulkan kegelisahan bahkan sikap antipati dari guru.

g.      Supervisi tidak boleh didasarkan atas kekuasaan pangkat, kedudukan dari kekuasaan pribadi.

h.      Supervisi tidak boleh bersifat mencari-cari kesalahan dan kekurangan (supervisi berbeda dengan inspeksi).

i.         Supervisi tidak dapat terlalu cepat mengharap hasil

j.         Supervisi hendaknya juga bersifat prefektif, korektif dan kooperatif.[14]

Pelaksanaan supevisi di sekolah selalu berkaitan dengan tipe manajemen pendidikan di sekolah. Dalam hubungan ini penjelasan Dr. Oteng Sutisna perlu kita perhatikan ialah bahwa dalam manajemen pendidikan di sekolah yang demokratis, sekolah baru akan mampu menciptakan lingkungan hidup yang demokratis, dimana para guru sebagai pribadi-pribadi ikut serta dalam mengatur sekolah dan program pengajaran yang demokratis.[15]

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

1.      Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu, yaitu tujuan bersama. Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menuntun, menggerakkan, orang lain agar ia menerima pengaruh itu.

2.      Konsep dasar kepemimpinan dalam organisasi meliputi : tipe-tipe kepemimpinan, sifat-sifat kepemimpinan dan faktor kepemimpinan.

3.      Peran dan tanggung jawab seorang pemimpi dalam organisasi pada hakekatnya erat dengan administrasi atau manajemen pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan supervisi pendidikan.

B.     Saran

Demikian uraian yang singkat yang telah kami paparkan, melalui makalah ini penulis menjelaskan dan menguraikan tentang “Dinamika kepemimpinan, konsep dasar kepemimpinan, peran dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam organisasi” dengan harapan hal tersebut dapat bermanfaat bagi diri sendiri khususnya dan orang lain pada umumnya. Dan apabila dalam penulisan ini masih banyak kekurangan, kami mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun dari pembaca semua. Akhir kata kepada Ilahi kita mengabdi kepada Gusti kita berbakti, kepada Robbi kita berserah diri dan kepada hati nurani kita berkaca diri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar pustaka

 

Akhmad Sanusi, dkk., Produktifitas Pendidikan Nasional, (Bandung: IKIP Bandung, 1986), hal. 117.

B.Suryabroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 188.

Depag RI Dirjend Kelembagaan Islam, Modul dan Model.......opcit, hal. 245.

Depag RI Dirjend Kelembagaan Agama Islam. Modul dan Model Pelatihan Pengawas Pendais, (Jakarta, 2002), hal. 23.

Muwahid Shulhan, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Ilmu, 2004), hal. 53.

M. Ngalim Purwanto. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Karya, 1987), hal. 57.

Oteng Sutisna, Supervisi dan Administrasi Pendidikan, (Bandung: Yemmars, 1979), hal. 15.

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, (Jakarta: Teras, 2009), hal. 170.

Thoha, Miftah. 1983. Perilaku Organisasi: Konsep dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1] Depag RI Dirjend Kelembagaan Agama Islam. Modul dan Model Pelatihan Pengawas Pendais, (Jakarta, 2002), hal. 23.

[2] Thoha, Miftah. 1983. Perilaku Organisasi: Konsep dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers.

 

[3] Muwahid Shulhan, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Bina Ilmu, 2004), hal. 53.

[4] Depag RI Dirjend Kelembagaan Islam, Modul dan Model.......opcit, hal. 245.

[5] Ibid, hal. 246.

[6] Ibid, hal. 247.

[7] Ibid, hal. 249.

[8] M. Ngalim Purwanto. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Karya, 1987), hal. 57.

[9] Ibid, hal.58.

[10] Ibid, hal.64.

[11] Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam: Konsep, Strategi dan Aplikasi, (Jakarta: Teras, 2009), hal. 170.

[12] Akhmad Sanusi, dkk., Produktifitas Pendidikan Nasional, (Bandung: IKIP Bandung, 1986), hal. 117.

[13] B. Suryabroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 188.

[14] Ibid, hal. 189.

[15] Oteng Sutisna, Supervisi dan Administrasi Pendidikan, (Bandung: Yemmars, 1979), hal. 156.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPE DAN SIFAT KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH MI MUHAMMADIYAH DOLOPO

MENCIPTAKAN ORGANISASI YANG EFEKTIF (TEORI DAN APLIKASINYA DI MADRASAH/SEKOLAH)