Organisasi lembaga pendidikan islam

 

Organisasi lembaga pendidikan islam I


 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang dipercaya mampu meningkatkan kualitas maupun kompetensi pada diri manusia, baik secara keintelektualan, sikap, sosial, dan perilaku. Dengan adanya kegiatan pendidikan diharapkan sebagai pintu gerbang pertama seseorang mendapatkan pengetahuan dalam dirinya dan mengembangkan potensi yang ada. Oleh karenanya perhatian maupun partisipasi masyarakat terhadap kemajuan perkembangan pendidikan menjadi suatu kepastian sekaligus harapan.

Sejatinya, lembaga pendidikan sebagai satu wadah yang secara formal melaksanakan kegiatan pendidikan yang teratur, terarah, terencana dan terprogram menjadi tujuan bagi setiap individu.  Bagi orang tua, lembaga pendidikan adalah suatu komponen masyarakat yang berkepentingan menitipkan anak-anaknya belajar di lembaga pendidikan tersebut. Selanjutnya bagi perusahaan, lembaga pendidikan merupakan kelompok yang berkepentingan menggunakan para lulusan dari lembaga pendidikan agar mampu menjadi karyawan yang berdedikasi di perusahaan. Harapan inilah yang dinanti oleh setiap masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Namun perlu diingat tidak semua lembaga pendidikan mampu mengemban amanah yang diberikan. Hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang nantinya ikut menjadi penentu terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Faktor-faktor tersebut bisa saja berasal dari internal organisasi atau juga bisa berasal dari eksternal organisasi.

Manusia selalu mempunyai ativitas dan tingkah laku yang merupakan hasil dari proses psikologi, yang mana dengan kemampuan mengunakan pilihan-pilihan dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosialnya. Dalam mempelajari tingkah laku manusia, perlu dipahami secara betul dan dipelajari dari  aspek psikologisnya, misalnya adalah presepsi (cara pandang) seperti hal nya yang kita ketahuai setiap isi kepala manusia memiliki pemikiran yang berbeda-beda, tentang bagaimana ia menangapi sesuatu menggunakan sudut pandang kacamatanya, belajar (proses perubahan tingkah laku) dan motivasi (dorongan untuk mencapai tujuan). Organisasi dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan jika dalam pelaksanaanya konsisten dengan prinsip-prinsip yang dibuat.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa konsep organisasi ?

2.      Apa saja teori-teori tentang organisasi?

3.      Bagaimana konsep kapabilitas organisasi?

4.      Bagaimana daur hidup organisasi ?

5.      Bagaimana keefektifan organisasi ?

6.      Bagaimana hubungan organisasi lembaga pendidikan islam dan lingkungannya ?

C.     Tujuan

1.      Mengetahui konsep organisasi.

2.      Mengetahui teori-teori tentang organisasi.

3.      Mengetahui konsep kapabilitas organisasi.

4.      Mengetahui daur hidup

5.      Mengetahui keefektifan organisasi.

6.      Mengetahui hubungan organisasi lembaga pendidikan islam dan lingkungannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Konsep Organisasi

Terdapat beberapa teori dan perspektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik,
psikologi, dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behaviour), atau analisa organisasi (organization analysis).[1]

B.     Teori Oganisasi

Terdapat beberapa teori dan prespektif mengenai organisasi, ada yang cocok sama satu sama lain, dan ada pula yang berbeda. Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerja sama secara rasional sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana prasarana, data, dan lain sebagainya yang di gunakan secara efesien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam ilmu-ilmu sosial, organisasi dipelajari oleh periset dari berbagai bidang ilmu, terutama sosiologi, ekonomi, ilmu politik, psikologi dan manajemen. Kajian mengenai organisasi sering disebut studi organisasi (organizational studies), perilaku organisasi (organizational behavior), atau analisa organisasi (organization analysis).

Organisasi dari kata organon dalam Bahasa yunani yang berarti alat. Definisi organisasi telah banyak ditemukan oleh para ahli baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

Refensi

Definisi

Stoner

Mengatakan bahwa organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama

James D. Mooney

Mengemukakan bahwa organisasi merupakan bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama

Chester I. Bernard

Dalam bukunya “The Exsecutive Function” berpendapat bahwa organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang di lakukan oleh dua orang atau lebih. 

Sthepen P. Robbins

Menyatakan bahwa Organisasi adalah kesatuan (entily) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relative dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatife terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekolompok tujuan.

Malayu S.P Hasibuan

Mengatakan organisasi ialah suatu sistem perserikatan formal, brestruktur dan terkoordinasi dari sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu.

 

Bedasarkan pendapat para ahli di atas, maka secara garis besar pengertian dan defisisi organisasi adalah diartikan sebagai suatu kelompok terdiri atas 2 atau lebih orang yang saling berkerja sama untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama. Organisasi merupakan wadah atau tempat berkumpulnya orang dan sistematis, terpimpin, terkendala, terencana, rasional, dalam memanfaatkan segala sumber daya baik metode, material, lingkungan dan uang serta sarana dan prasarana, dan lan sebaainya di mana digunakan secara efesien dan efektif untuk bisa mencapai tujuan organisasi.

Beberapa teori organinisasi yang penting adalah:

1.      Teori Organisasi klasik

Teori ini bisa di sebut dengan “Teori Tradisional” atau di sebut juga “Teori Mesin” berkembang mula 1800-an (abad 19). Dalam teori ini organisasi digambarkan sebuah lembaga yang tersentralisasi dan tugas-tugasnya terspesialisasi serta memberikan petunjuk mekanistik struktural yang kaku tidak mengandung kreatifitas. Dikatakan teori mesin karena organisasi ini menganggap manusia baikan sebuah onderdil yang setiap saat bisa di pasang dan gonta-ganti sesua kehendak pemimpin. Menurut teori klasik : organisasi merupakan struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain apabila orang bekerja sama.

2.      Teori Organisasi Neo-Klasik

Teori Neo-Klasik meniti beratkan pada pemikiran tentang pentingnya aspek psikologis dan sosial manusia (karyawan), sebagai individu maupun kelompok kerja. Pendekatan yang menekankan aspek manusia inilah yang kemudian dikenal secara umum pada dasawarsa awal tahun 1900-an, yatu pendekatan perilaku (behavioural approach) atau mendekatkan hubungan kerja kemanusiaan ( Human Relation approach).

3.      Teori Organisasi Modern

Pendekatan ini memusatkan perhatiannya pada pembagian kerja dalam pencampaian tujuan organisasi, prosesdur-prosedur kerja yang ditetapkan untuk mencapai tujuan itu dan sebagainya.

4.      Teori Organisasi Contringency

Teori Contrigency dibangun atas dasar kaidah-kaidah yang dikembangkan oleh pendekatan sistem. Teori Contrigency melihat teori organisasi sudah seharusnya berlandaskan pada konsep sistem yang terbuka (open system concept). Inti dari Teori Contrigency ini pada dasarnya terletak pada pandanganya dalam melihat hubungan antar organisasi dan hubungan antara organisasi dengan lingkunganya. Menurut teori ini, hubungan antara suatu organisasi dengan lainnya maupun dengan lingkungannya secara keseluruhan, sangat tergantung pada situasi (depens on the situation). [2]

C.     Konsep Kapabilitas Organisasi

Pada dasarnya yang dimaksud kapabilitas organisasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh organisasi untuk menjalankan tujuan dan fungsinya untuk mencapai tujuan spesifik yang telah ditetapkan sebelumnya. Agar tujuan tersebut dapat tercapai kemampuan yang harus dimiliki orang-orang untuk bekerja dalam organisasi (organisasi profit maupun publik), baik untuk para eksekutif, manajer, dan karyawan sebagai berikut:

1.      Kemampuan Kepemimpinan adalah pemikiran strategis untuk memahami kencerungan trend lingkungan yang cepat berubah, kekuatan serta kelemahan organisasi sendiri, supaya dapat menemukan tanggapan strategis yang terbaik,

Kepemimpinan perubahan Change leadership, yaitu untuk mengkomunikasikan pandangan mengenai strategi organisasi sehingga dapat membangkitkan motivasi dan komitmen mereka yang tulus dan memanfaatkan SDM organisasi sebaikbaiknya untuk melaksanakan perubahan yang terjadi. Mengenai hubungan relationship management yaitu untuk membina hubungan dengan pihak lain yang kerjasamanya diperlukan demi keberhasilan organisasi.

2.      Kemampuan Manajer adalah keluwesan, yaitu untuk mengubah struktur dan proses-proses manajerial bila diperlukan, untuk melaksanakan strategi perubahan organisasi, Pelaksanaan perubahan, yaitu untuk mengkomunikasikan kebutuhan perubahan organisasi kepada semua karyawan, dan keterampilan-keterampilan manajemen perubahan, Saling pengertian antar pribadi, yaitu untuk memahami dan menghargai masukan-masukan dari orang-orang yang berlainan. Memberikan wewenang, yaitu dengan saling berbagi informasi minta pendapat dari sesama karyawan mengupayakan pengembangan karyawan, mendelegasikan tanggung jawab yang berarti, Bantuan kelompok, yaitu agar kelompok-kelompok yang berlainan dapat bekerja sama secara efektif untuk mencapai tujuan bersama.Protobilitas, yaitu agar cepat menyesuaikan diri dan
berfungsi secara efektif dari lingkungan-lingkungan asing, seorang manajer harus mudah dipindah kedudukannya dimanapun berada.

3.      Kemampuan Karyawan, yaitu keluwesan: untuk memandang perubahan sebagai peluang yang menarik ketimbang suatu ancaman, selalu mencari informasi, motivasi dan kemampuan belajar, Motivasi untuk berprestasi: merupakan dorongan bagi inovasi, yaitu peningkatan mutu dan produktivitas terus menerus yang dibutuhkan untuk menghadapi persaingan yang terus meningkat. Motivasi kerja di bawah tekanan waktu: merupakan gabungan antarkeluwesan, motivasi untuk berprestasi, daya tahan terhadap tekanan, dan komitmen terhadap organisasi, yang memungkinkan seseorang bekerja di bawah tuntutan akan produk atau jasa-jasa dalam jangka waktu yang relatif singkat. Kesediaan untuk bekerjasama dalam kelompok-kelompok multidisipliner dengan rekan kerja yang berbedabeda, penghargaan positif terhadap orang lain, saling pengertian antarpribadi, dan komitmen terhadap organisasi, Orientasi pelayan pelanggan merupakan keinginan yang tulus untuk membantu orang lain, saling pengertian antarpribadi yang memadai untuk mengetahui kebutuahan dan suasana emosional pelanggan, dan cukup inisiatif untuk mengatasi rintangan-rintangan dalam organisasi sendiri guna memecahkan masalah-masalah pelanggan.[3]

D.    Daur Hidup Organisasi

Ichak Adizes ( 1989) menguraikan tiga tahapan utama yaitu: Tahap pertumbuhan (growing stages) yang meliputi masa pengenalan (courtship), masa bayi (infancy), dan masa kanak-kanak (go-go)2. Masa ”coming of age” yang meliputi masa kedewasaan (adolescence) dan masa puncak/ keemasan prime, Tahap Penurunan (aging organizations) yang meliputi masa kemapanan (stable organizations), masa aristokrasi (aristoccracy), masa birokrasi awal (early bureaucracy) dan masa birokrasi dan mati (bureaucracy and death). Dari sembilan tahapan yang dirinci di atas dalam tulisan ini yang akan diuraikan hanya 7 (tujuh) tahap yang paling penting.

1.      Masa Pengenalan ( Courtship) Ciri utama organisasi pada masa pengenalan adalah, banyaknya ide atau gagasan yang ingin diwujudkan, meskipun organisasi belum berdiri. Banyak sekali gagasan-gagasan tentang masa depan, tanpa adanya kegiatan yang nyata. Karenanya pada tahap ini antusiasme sangat tinggi dan ketertarikan secara emosional. Antusiasme dan ketertarikan secara emosional yang sangat tinggi itulah yang membangkitkan komitmen

2.      Tahap Pengenalan. Gagasan-gagasan dan ide yang dibangun pada tahap pengenalan apabila disertai kemampuan untuk mewujudkannya merupakan siklus awal dari kehidupan organisasi. Tentu saja tidak semua gagasan dapat diwujudkan, karena hal itu berkaitan langsung dengan ketersediaan dan kemampuan sumberdaya organisasi, baik sumberdaya manusia maupun sumber daya lainnya. Meskipun risiko telah diperhitungkan secara moderat, organisasi pada tahap awal membutuhkan kerja keras dan aktivitas-aktivitas berkelanjutan yang dilakukan oleh pendiri atau penggagas.

3.      Masa Anak-Anak (Go-Go) Organisasi yang berhasil mewujudkan gagasan dalam bentuk yang nyata dianggap telah melewati masa awal. Dalam jumlah terbatas, ide-ide dapat dilaksanakan dan mulai menunjukkan aktivitas walaupun dalam skala terbatas. Keberhasilan dalam masa ini akan mendorong pendiri untuk memperbanyak ide dan mencoba untuk mewujudkan setiap ide yang muncul dalam angan-angan. Akhirnya banyak sekali ide yang ingin direalisasikan. Setiap peluang dan kesempatan ”disambar” tanpa memperhitungkan kekuatan sumberdaya organisasi, tanpa menentukan skala prioritas, karena semua adalah prioritas. Akibatnya banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan pada saat bersamaan. Sindrom ”go-go” adalah semua ingin digarap, persis seorang anak yang selalu melahap apa saja yang ditemukan, tak perduli makanan atau bukan. Organisasi dikendalikan oleh setiap ”temuan” peluang, bukan organisasi yang mengendalikan peluang

4.      Masa dewasa, Organisasi yang berhasil melewati masa Go-Go yaitu yang secara selektif memilih peluang - bidang untuk digarap - dikerjakan, apakah melalui penetapan skala prioritas secara seksama, pilihan yang paling realistis atau secara radikal mengganti tujuan, menetapkan kembali ”visi” dan ”misi” organisasi. Organisasi yang berhasil melewati masa ini telah mencapai kedewasaan yang dicirikan berfikir dan bertindak realistis serta bekerja dalam level risiko yang moderat. Tentu saja penggantian tujuan ini membutuhkan perenungan, pemikiran, waktu, memerlukan refleksi. Risikonya, pada saat orang bertempur memperebutkan berbagai peluang untuk dikerjakan, masuk dalam bidang-bidang garapan, organisasi ini masih berasik-asik dengan program rekayasa ulang atau jargon-jargon reformasi.

5.      Masa Puncak Organisasi Organisasi yang berhasil melewati masa dewasa akan mencapai masa puncak organisasi. Hal ini ditandai dengan sasaran-sasaran yang secara realistis ditetapkan berhasil dicapai dengan baik. Organisasi dapat dikendalikan dengan baik karena sistem dan prosedur, serta mekanisme pengambilan keputusan telah tersusun dengan baik serta diterapkan secara konsekwen. Kendati, organisasi secara ketat menjalankan sistem dan prosedur,
organisasi tetap fleksibel dalam arti masih mampu mengadopsi berbagai perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan

6.      Masa Stabilitas Organisasi Apabila organsisasi secara konsisten mampu mempertahankan masa puncak selama beberapa periode tertentu, maka dapat dikatakan bahwa organisasi itu mengalami atau berada pada posisi kestabilan. Tentu saja pada tahap ini banyak sekali ”godaan” dan tantangan yang muncul secara internal maupun eksternal

7.      Masa Penurunan dan Kematian Organisasi Secara internal godaan yang muncul adalah munculnya rutinitas pekerjaan sehingga mematikan kreativitas dan inovasi. Setiap gagasan atau inovasi muncul selalu akan mengganggu kestabilan.. Jika situasi ini terus berlanjut, maka lama kelamaan akan memunculkan kubukubu yang saling berseberangan, atau bahkan saling bermusuhan secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi (konflik).[4]

E.     Kefektifan Organisasi

Dalam buku Principalship, Sergiovanni mengetengahkan pendapat beberapa ahli tentang keefektifan, yaitu Etzioni di mana ia mengatakan bahwa keefektifan adalah derajat di mana organisasi mencapai tujuannya, Steers mengemukakan bahwa keefektifan organisasi menekankan perhatian pada kesesuaian hasil yang dicapai organisasi dengan tujuan yang akan dicapai, dan Tobert berpendapat bahwa keefektifan organisasi adalah kesesuaian hasil yang dicapai organisasi dengan tujuannya. Karena itu, keefektifan organisasi adalah kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan harapan dan kemampuan mencapai hasil yang diharapkan.4 Generalisasi keefektifan dari uraian tersebut menunjukkan bahwa organisasi akan lebih efektif apabila kelompok-kelompok informal, kebutuhan-kebutuhan individu, dan tujuan-tujuan birokrasi berperan secara bersama atau saling berfungsi secara optimal satu sama lainnya yang didukung oleh variabel teknologi, perkembangan lingkungan, kesempatan baik, kecakapan perorangan dan motivasi yang kuat. Keefektifan organisasi menurut Gibson, Ivacevich, dan Donnely adalah konsep yang sangat luas mencakup sejumlah komponen-komponen konsep, baik jangka pendek seperti produksi, efesiensi dan kepuasan. Jangka menengah (intermediate) yaitu menyesuaikan diri (adaptiveness) terhadap lingkungan, dan pengembangan
(development) serta pertumbuhan. Sedangkan jangka panjang adalah
organisasi tersebut dapat bertahan hidup (survive)  Persyaratan utama mencapai keefektifan organisasi menurut Ewell dan Lisensky adalah dengan memahami cara-cara berbeda dimana sebuah organisasi bisa bersifat efektif.[5]

F.      Hubungan Organisasi Lembaga Pendidikan Dan Lingkungan

lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada dan terjadi disekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati. Keempat kelompok benda-benda lingkungan pendidikan itu ikut berperan dalam rangka usaha setiap siswa/mahasiswa mengembangkan dirinya. Tetapi manajemen pendidikan menaruh perhatiannya terutama kepada lingkungan yang berwujud manusia yaitu masyarakat .Tugas manajemen pendidikan antara lain mengintegrasikan dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber-sumber pendidikan dengan seefektif dan seefesien mungkin. Para guru diharapkan dapat mempergunakan dan memanfaatkan sumber-sumber pendidikan tersebut dalam rangka meningkatkan proses belajar-mengajar pada masing-masing sekolah atau lembaga pendidikan dimana mereka bertugas. Dalam hal ini manajer hanya memberikan ramburambu atau petunjuk-petunjuk umum dalam penggunaan lingkungan yang dimaksud.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali.

pengertian dan defisisi organisasi adalah diartikan sebagai suatu kelompok terdiri atas 2 atau lebih orang yang saling berkerja sama untuk mencapai tujuan tertentu secara bersama.

kapabilitas organisasi adalah kemampuan yang dimiliki oleh organisasi untuk menjalankan tujuan dan fungsinya untuk mencapai tujuan spesifik yang telah ditetapkan sebelumnya

Ichak Adizes ( 1989) menguraikan tiga tahapan utama yaitu: Tahap pertumbuhan (growing stages) yang meliputi masa pengenalan (courtship), masa bayi (infancy), dan masa kanak-kanak (go-go)2. Masa ”coming of age” yang meliputi masa kedewasaan (adolescence) dan masa puncak/ keemasan prime, Tahap Penurunan (aging organizations) yang meliputi masa kemapanan (stable organizations), masa aristokrasi (aristoccracy), masa birokrasi awal (early bureaucracy) dan masa birokrasi dan mati (bureaucracy and death).

keefektifan organisasi adalah kesesuaian hasil yang dicapai organisasi dengan tujuannya

manajer hanya memberikan ramburambu atau petunjuk-petunjuk umum dalam penggunaan lingkungan yang dimaksud

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Arie. “Perilaku Dan Teori Organisasi.” Media Nusa Creative, 2018.

Anfar, Kasful. “Organisasi Dan Manjemen Pendidikan Nasional Dalam Lembaga Pendidikan Islam.” Jurnal Hikmah Vol. 9. No. 2 (2021).

ARISANTI, DEVI. “Manajemen Lingkungan Pendidikan Dalam Perspektif Islam.” Jurnal Al-Thariqah Vol. 1, No. 1 (2016).

Ibrohim, Busthomi. “Keefektifan Organisasi Dalam Pemberdayaan Sekolah.” IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang Banten Vol. 5 No.1 (2008).

Mahyuddin, Hasbi. “KAPABILITAS ORGANISASI PUBLIK.” Universitas Hasanuddin Makassar Vol. 01 (2012).

Sam’un, Jaja Raharja. “Siklus Hidup Organisasi : Suatu Analisis Perkembangan Organisasi.” Jurnal Administrasi Bisnis Vol.6, No.1 (2010).

 



[1] Arie Ambarwati, “Perilaku Dan Teori Organisasi,” Media Nusa Creative, 2018, 3.

[2] Kasful Anfar, “Organisasi Dan Manjemen Pendidikan Nasional Dalam Lembaga Pendidikan Islam,” Jurnal Hikmah Vol. 9. No. 2 (2021): 9–11.

[3] Hasbi Mahyuddin, “KAPABILITAS ORGANISASI PUBLIK,” Universitas Hasanuddin Makassar Vol. 01 (2012): 316.

[4] Jaja Raharja Sam’un, “Siklus Hidup Organisasi : Suatu Analisis Perkembangan Organisasi,” Jurnal Administrasi Bisnis Vol.6, No.1 (2010): 95.

[5] Busthomi Ibrohim, “Keefektifan Organisasi Dalam Pemberdayaan Sekolah,” IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang Banten Vol. 5 No.1 (2008): 123.

[6] DEVI ARISANTI, “Manajemen Lingkungan Pendidikan Dalam Perspektif Islam,” Jurnal Al-Thariqah Vol. 1, No. 1 (2016): 73.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPE DAN SIFAT KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH MI MUHAMMADIYAH DOLOPO

MENCIPTAKAN ORGANISASI YANG EFEKTIF (TEORI DAN APLIKASINYA DI MADRASAH/SEKOLAH)