PERILAKU ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN
TUGAS KULIAH
PERILAKU ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Organisasi adalah sebuah wadah yang bisa digunakan manusia untuk
mengekspresikan diri dan kemampuannya. Dalam sebuah organisasi,
manusia bisa belajar banyak hal terkait kepemimpinan, pengambilan
keputusan, kesabaran dalam berinteraksi dengan orang lain dan
sebagainya.
Ketika seseorang bergabung dalam sebuah organisasi, bisa jadi
organisasi membuat perilakunya berubah lebih baik ataupun lebih buruk.
Dan begitu juga bisa berlaku sebaliknya, bahwa perilaku seseorang bisa
mengubah sebuah organisasi menjadi lebih baik ataupun lebih buruk.
Pada dasarnya perilaku organisasi adalah suatu bidang studi yang di
dalamnya mempelajari tentang bagaimana seseorang ataupun individu
bisa bergerak dan berperilaku sesuai dengan organisasi.
Perilaku
organisasi bisa diterapkan dalam secara luas dalam perilaku orang orang
di dalam organisasi.
Model adalah tehnik yang membantu kita untuk memahami hal hal
yang rumit atau kompleks dengan cara yang lebih jelas. Juga bisa menjadi
acuan kerangka kerja mengapa orang berperilaku seperti itu. Model
perilaku organisasi akan memberikan gambaran kepada kita bagaimana
pola pengelolaan organisasi.
Sekolah atau madrasah adalah salah satu bentuk organisasi. Karena
di dalamnya ada kumpulan individu yang berkumpul bersama dalam
sebuah ikatan pekerjaan dalam lembaga. Ada pimpinan dan ada juga
anggota/bawahan. Perilaku organisasi pasti berlaku dalam sekolah atau
madrasah agar visi, misi dan tujuan lembaga bisa tercapai dengan baik.
Model perilaku organisasi akan memberikan gambaran kepada pimpinan
madrasah bagaimana pengelolaan sebuah madrasah
1
B. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah adalah sebagai pemenuhan tugas mata
kulian serta agar penulis pada khususnya bisa lebih mendalami tentang
model model perilaku dalam organisasi dan aplikasinya di
sekolah/madrasah dan umumnya mahasiswa bisa mendapatkan
pengetahuan tambahan tentang bab ini
C. MANFAAT
Manfat yang bisa diambil dari penulisan makalah ini adalah penulis
mengetahui model perilaku organisasi serta bisa memahami aplikasi dari
model perilaku organisasi khususnya di madrasah atau di sekolah.
D. PERTANYAAN KAJIAN
a. Bagaimana model perilaku organisasi yang tepat untuk madrasah?
b. Apakah ada model yang tidak tepat untuk diaplikasikan di madrasah?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Perilaku organisasi (Organizational Behavior – OB) menurut Keith Davis
sebagai studi dan penerapan pengetahuan tentang bagaimana manusia
sebagai individu atau kelompok bertindak di dalam organisasi. Sedangkan
perilaku organisasi menurut Greenerg dan Baron merupakan bidang yang
bersifat multidisiplin yang membahas perilaku organisasi sebagai proses
individu, kelompok dan organisasi.
2.1 Prinsip – prinsip perilaku organisasi
Salah satu tantangan dalam sebuah organisasi adalah bagaimana
beradaptasi dengan anggota/pegawai yang berada di dalam sebuah organisasi.
Karena setiap individu mempunyai sikap, pemikiran serta latar belakang yang
berbeda. Baik latar belakang pendidikan maupun latar belakang tujuan
bergabung dalam sebuah organisasi. Perilaku organisasi memberikan peluang
dan tantangan bagi pemimpin. Perilaku organisasi juga membantu pemimpin
untuk meningkatkan kualitas sebuah organisasi.
Menurut Thoha (2014:36) bahwa terdapat prinsip - prinsip perilaku
organisasi antara lain :
a. Manusia berbeda perilakunya, karena kemampuannya tidak sama.
b. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda.
c. Orang berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang
bagaimana bertindak.
d. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan
pengalaman masa lalu kebutuhannya.
e. Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang.
f. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilaku seseorang.
Dari prinsip di atas, penulis akan mencoba menguraikan satu persatu
sebagai berikut :
a. Manusia berbeda perilakunya karena kemampuannya tidak sama
Ada banyak teori yang mengatakan bahwa setiap orang terlahir dalam
kondisi mempunyai kemampuan yang tidak sama. Karena kemampuan
yang tidak sama ini, maka akan menimbulkan perilaku yang berbeda.
Kecerdasan adalah satu satu perwujudan kemampuan seseorang. Maka
akan terlihat perilaku yang berbeda dari orang yang kemampuannya baik,
sedang ataupun kurang. Ada orang yang mampu mengerjakan karya
dalam waktu yang cepat, tetapi ada orang yang perlu waktu lama untuk
menghasilkan sebuah karya.
b. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda
Seseorang mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan individu yang
lain. Dalam ilmu – ilmu teori perilaku, kita kenal bahwa manusia berperilaku
karena dorongan kebutuhan (need). Maka seseorang yang memerlukan
pengakuan akan berbeda perilakunya dengan seseorang yang
memerlukan kecukupan ekonomi dalam hidupnya.
c. Orang berfikir tentang masa depan dan membuat pilihan bagaimana
bertindak.
Setiap individu mempunya rancangan masa depan yang berbeda
dalam hidupnya. Seberapa tinggi rancangan masa depan akan
membedakan bagaimana seseorang berperilaku. Impian masa depan
akan menentukan perbedaan dalam berperilaku.
d. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan
pengalaman masa lalu kebutuhannya.
Pengalaman dalam kehidupan seseorang akan memberikan warna
dalam sebuah organisasi. Pemahaman terhadap lingkungan akan
membuat seseorang bisa beradaptasi dengan baik. Kolaborasi
pemahaman dan pengalaman akan menghasilkan perilaku yang berbeda.
e. Seseorang mempunyai reaksi – reaksi senang atau tidak senang.
Emosi setiap orang berbeda-beda. Emosi senang atau tidak senang
merupakan respon seseorang terhadap apa yang ada di sekelilingnya.
Perbedaan emosi juga akan menimbulkan perilaku yang berbeda
f. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilaku seseorang
Dari beberapa faktor di atas, terdapat gambaran bahwa banyak faktor
yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Faktor pribadi, tujuan,
kenyamanan, emosi dan lain sebagainya. Oleh karena itu terkadang
dengan semua faktor di atas organisasi/lembaga mengalami kesulitan
dalam mengelolanya.
Dalam perkembangan terkini , model – model perilaku organisasi adalah
sebagai berikut :
1. Model Autokratis.
Model autokratis adalah model perilaku organisasi yang dimulai pada masa
revolusi industri. Model autokratis bergantung pada kekuasaan. Pemimpin
organisasi mempunyai kewenangan penuh terkait kebijakan. Mereka berhak
memberikan perintah berdasarkan kewenangan mereka secara
formal.Pemimpin memikirkan semua pekerjaan dan anggota/pekerja yang
mengeksekusi. Anggota organisasi mempunyai prestasi dan kinerja yang baik
karena dorongan kesukaan secara pribadi kepada pimpinan. Namun anggota
yang tidak patuh bisa mendapatkan hukuman / sangsi organisasi. Kekuatan
dari model ini adalah kuatnya komando atau perintah yang terpusat dan bisa
menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan cepat meski hasilnya biasa – biasa
saja. Dampak buruk atau kelemahannya adalah ketergantungan kepada
pimpinan sangat kuat. Karena apapun kebijakan ataupun keputusan
semuanya mutlak di tangan pimpinan. Juga orientasi anggota organisasi
adalah kepatuhan kepada pimpinan, bukan kepada visi dan misi organisasi.
Dampak buruk yang lain adalah besarnya kerugian terhadap sumber daya
manusianya (SDM). Pada model ini, anggota/karyawan tidak berbicara dan
cenderung patuh tetapi mereka penuh rasa frustasi yang kemungkinan akan
dilampiaskan kepada rekan kerja atau keluarga.
2. Model Kustodial.
Model kustodial adalah model perilaku organisasi dimana anggota
bergantung terkait keamanan secara finansial terhadap organisasi. Organisasi
menjadi tempat bergantung sebagai sumber daya ekonomi. Kebutuhan yang
terpenuhi dari model ini adalah rasa aman. Organisasi/sekolah menyediakan
beberapa fasilitas kesejahteraan untuk anggota atau pekerja. Juga
memberikan penghargaan atau reward pada saat saat tertentu tetapi tanpa
acuan yang jelas. Kelemahan dari model ini adalah pekerja cenderung pasif
dan tidak berusaha memberikan hasil yang terbaik ataupun maksimal karena
hubungannya hanya sekedar pemenuhan finansial.
3. Model Suportif.
Model perilaku organisasi ini adalah kepemimpinan yang didukung oleh
manajerial yang baik. Model suportif berasal dari “prinsip hubungan suportif”,
tidak tergantung kepada kekuasaan ataupun uang. Kebutuhan yang terpenuhi
dari model ini adalah status dan pengakuan. Manajemen member kesempatan
kepada seluruh pegawai untuk mengerjakan tugas sesuai kapasitas masing –
masing. Pegawai yang berprestasi diakui dan dihargai sehingga mereka
terpacu untuk memberikan yang terbaik. Meskipun model ini tetap akan bisa
berlaku dengan baik, ketika kebutuhan primer mereka terpenuhi. Karena tidak
ada ruang kontrol terkait otoritas/kekuasaan, maka group yang dinamis dan
supervisi yang dilakukan akan memberikan hasil yang lebih baik untuk model
ini. Model ini lebih banyak berguna di Negara maju dibanding Negara
berkembang, karena selain kesadaran masyarakat sudah lebih baik, juga
pemenuhan kebutuhan primernya sudah terpenuhi.
4. Model Kolegial.
Perluasan dari model suportif adalah kolegial. Istilah kolegial berkaitan
dengan kumpulan orang yang memiliki tujuan bersama. Model perilaku
organisasi kolegial menekankan pada kinerja team. Sehingga manajer/atasan
harus berupaya untuk membangun kemitraan dengan para anggota atau
pekerja. Pemimpin lebih berperan sebagai mitra atau teman. Sehingga
anggota/pegawai akan disiplin dan bertanggung jawab karena tidak hanya
dianggap sebagai alat. Kesuksesan model ini tergantung dari kemampuan
pemimpin dalam membangun dan menumbuhkan perasaan kemitraan antar
karyawan. Manajer berorientasi pada kinerja tim sementara setiap anggota
organisasi/karyawan bertanggung jawab atas tugasnya satu sama lain.
5. Model Sistem
Model ini yang paling terbaru diantara semua sistem yang ada. Model ini
keluar dari hasil penelitian yang dilakukan untuk mencapai tingkat kinerja
karyawan yang terbaik. Para pekerja/anggota organisasi tidak hanya sekedar
membutuhkan gaji dan keamanan dalam pekerjaan mereka. Mereka
menginginkan jam yang sudah mereka habiskan untuk organisasi atau
lembaga memberikan nilai dan makna. Dalam model ini, organisasi melihat
keseluruhan struktur dan juga melihat individu. Sistem ini berusaha
menyelaraskan tujuan organisasi dan tujuan individu. Dan pada system ini,
para manajer mempunyai harapan lebih, tidak hanya sekedar penyelesaian
sebuah pekerjaan. Manajer juga menunjukkan sisi emosional mereka, kasih
saying kepada pekerja dan memahami kebutuhan pekerja yang beragam.
Manajer juga mendedikasikan perhatian mereka untuk menciptakan perasaan
optimis, harapan, kepercayaan, keberanian. Untuk itu manajer menciptakan
kultur kerja yang positif dimana pekerja/anggota organisasi merasa nyaman
dan bekerja sebagaimana mereka bekerja untuk keluarganya. Hasil dari
system ini akan menumbuhkan komitmen dalam waktu lama, loyalitas pekerja
dan kesuksesan sebuah organisasi/lembaga.
BAB III
PEMBAHASAN
Setelah mempelajari teori di atas, tidak ada patokan model yang terbaik
untuk sebuah madrasah atau sekolah tempat kita berorganisasi. Karena model
tersebut berkembang sesuai dengan perubahan persepsi, kondisi sosial dan
studi yang mempengaruhi perilaku manusia. Dalam pemahaman penulis
berikut aplikasi yang tepat untuk madrasah atau sekolah.
1. Model Autokrasi
Model ini bisa diterapkan untuk sekolah yang baru dirintis. Ketika semua
konsep masih berpusat di pimpinan sekolah, dan pegawai hanya tinggal
mengeksekusi. Karena untuk sekolah yang baru dirintis, membutuhkan
landasan yang kuat terkait pemahaman visi misi dan tujuan sebuah sekolah.
Tentunya itu sangat difahami oleh pemimpin atau kepala madrasah.
2. Model Kastodial
Model ini bisa diterapkan setelah model autokrasi berjalan dengan baik.
Pekerja bisa mengerjakan dengan baik arahan program / pekerjaan yang
diberikan oleh kepala lembaga. Maka pemberian tunjangan kesehatan atau
fasilitas penitipan anak (day care) mulai diberikan untuk memberikan rasa
aman kepada karyawan.
3. Model Support
Model ini diterapkan setelah dua model sebelumnya diterapkan. Mulai ada
pengakuan atas prestasi kerja pegawai. Kepala memberikan kesempatan
kepada pegawai untuk mengerjakan tugas sesuai kapasitasnya. Memberikan
motivasi agar pegawai/karyawan memberikan kinerja terbaik serta
memberikan apresiasi seperti pemberian penghargaan di depan teman
sejawat. Tidak hanya berupa tunjangan seperti yang diberikan pada model
sebelumnya.
4. Model Kolegial
Model ini bisa diterapkan untuk sekolah yang mulai berkembang pesat.
Pembentukan team – team yang membantu pengelolaan manajemen sekolah
adalah salah satu contohnya. Semua pegawai dilibatkan sehingga mereka
merasa penting dan dibutuhkan. Kepala tidak hanya menjadi supervisi tetapi
juga berkontributor dalam team.
5. Model Sistem
Model ini bisa diterapkan ketika sebuah lembaga yang sudah besar dan
perlu mempertahankan keberadaannya di tengah bermunculan competitor.
Kepala sekolah memperhatikan sisi emosional dengan menunjukkan kasih
sayang kepada semua pekerja dan berusaha tahu kebutuhan pekerja yang
beragam. Budaya kerja yang kondusif serta nyaman perlu diciptakan pada
sebuah lembaga yang pegawai atau karyawannya sudah banyak. Sehingga
semua karyawan merasa bangga dengan lembaganya dan turut bertanggung
jawab dalam pengembangan lembaga.
BAB IV
SIMPULAN
A. SIMPULAN
Semua model perilaku organisasi baik jika dilakukan sesuai kondisi
lembaga. Tidak ada model yang paling baik atau paling tepat karena semua
menyesuaikan kebutuhan lembaga ataupun kemampuan lembaga. Model
perilaku organisasi bisa dimodifikasi, digabung dan diterapkan dengan
menyesuaikan kebutuhan lembaga.
B. SARAN
Penulis menyarankan beberapa hal terkait makalah di atas, antara lain :
1. Setiap lembaga melihat lebih dalam bagaimana kondisi sekolahnya, baru
menerapkan perilaku organisasi yang sesuai dengan kebutuhan.
2. Setiap lembaga adalah unik, maka model perilaku yang diterapkan di
lembaga lain belum tentu cocok dengan lembaganya.
3. .Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan
dalam makalah ini. Kritik dan saran atas makalah adalah hal yang penulis
perlukan untuk perbaikan di masa mendatang.
DAFTAR PUSTAKA
Davis, K. and W.J. Newstrom. 1985. Human Behavior at Work. McGraw-Hill
Inc., US.
Miftah Thoha.(2012). Prilaku Organisasi Konsep Dasar dan Implikasinya.
Jakarta: Rajawali Pers
https://rezanopriallubis2018.wordpress.com/2014/06/12/makalah-perilaku-org
anisasi/ [ di akses pada tanggal 4 September 2021]
http://repository.untag-sby.ac.id/8091/3/BAB%202.pdf [diakses pada tanggal 4
September 2021]
https://www.myorganisationalbehaviour.com/five-models-of-organisational-be
haviour/ [diakses pada 5 September 2021]
https://ebrary.net/2814/management/models_organiational_behaviour
[diakses pada 5 September 2021]
http://repository.unpas.ac.id/9909/4/BAB%20II.pdf [diakses pada 5 September
2021]
https://www.educba.com/organizational-behavior-model/ [diakses pada 5
September 2021]
https://youtu.be/aA_ygVI0gB8 ,Dr Amit Khal [diakses pada 5 September 2021]
Komentar
Posting Komentar