SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA ORGANISASI (Teori dan Aplikasinya di Madrasah/Sekolah)

 
 
SISTEM SOSIAL DAN BUDAYA ORGANISASI (Teori dan
Aplikasinya di Madrasah/Sekolah)


BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab dapat
dipengaruhi oleh motivasi  kerja.  Ditinjau  dari  makna  kata
motivasi  sendiri,  dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia motivasi
adalah dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk sadar
atau tidak sadar melakukan suatu tindakan untuk tujuan tertentu.
Sedangkan Motivasi kerja dapat diartikan sebagai keinginan atau
kebutuhan  yang  melatarbelakangi  seseorang sehingga
mendorongnya untuk melakukan pekerjaan. Salah satu faktor yang
mempengaruhi motivasi guru disekolah adalah budaya organisasi
dan sistem sosial yang terbangun didalamnya.
Organisasi merupakan suatu sistem yang didalamnya terdapat
berbagai unsur yang saling keterkaitan antara satu sama lainnya.
Budaya organisasi mengandung keseluruhan pengertian nilai
sosial, norma sosial, cara, kebiasaan, prilaku dan ilmu pengetahuan
serta keseluruhan  struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain.
Kaitannya dengan dunia pendidikan dapat diambil kesimpulan
bahwa budaya organisasi adalah mengatur para pendidik agar
mereka memahami bagaimana seharusnya bersikap terhadap
profesinya, beradaptasi terhadap rekan kerja dan lingkungan
kerjanya serta berlaku reaktif terhadap kebijakan pimpinannya,
sehingga terbentuklah sebuah sistem nilai, kebiasaan (habits), citra
akademis, etos kerja yang terinternalisasikan dalam kehidupannya
sehingga mendorong adanya apresiasi dirinya terhadap
peningkatan prestasi kerja baik terbentuk oleh lingkungan
organisasi itu sendiri maupun dikuatkan secara organisatoris oleh
pimpinan akademis yang mengeluarkan sebuah kebijakan yang
diterima ketika seseorang masuk organisasi tersebut.
Selain budaya organisasi didalam lingkungan pendidikan juga
diperlukan  adanya sistem sosial karena Pentingnya komunikasi
dalam pembelajaran dijadikan sebagai salah satu aspek yang
 
1
dikembangkan untuk mendukung pembelajaran abad 21 dan
kurikulum terbaru saat ini yaitu kurikulum 2013. Filosofi dari
kurikulum 2013 adalah pendidikan untuk membangun kehidupan
masa kini dan masa depan yang lebih baik, dimana perlu
menekankan pada kemampuan intelektual, kemampuan
berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk
membangun kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik.
Oleh karena itu dua aspek ini sangat mempengaruhi akan
keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Sehingga sangat penting
untuk kita bahas mulai dari teori dan implementasinya di
madrasah/sekolah.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Konsep Budaya Organisasi dalam Pendidikan Islam?
2. Bagaimana Konsep Sistem Sosial dalam Pendidikan Islam?
3. Bagaimana Implimentasi Budaya Organisasi dan Sistem Sosial
dalam Pendidikan Islam?
C. Tujuan  
1. Untuk mengetahui konsep budaya organisasi dalam pendidikan
Islam
2. Untuk mengetahui Konsep Sistem Sosial dalam Pendidikan Islam
3.  Untuk mengetahui Implimentasi Budaya Organisasi dan Sistem
Sosial dalam Pendidikan Islam
 
 
 
 
 
 
 
 
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. KONSEP BUDAYA ORGANISASI
a) Pengertian Budaya

Istilah budaya berasal dari bahasa Latin yaitu colere
yang berarti mengolah, mengerjakan, terutama mengolah
tanah atau bertani. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi
culture (Sonhadji, 2003).
1
 Sedangkan arti budaya dalam
kamus besar Bahasa Indonesia adalah 1) pikiran, akal budi;
2) adat istiadat; 3) sesuatu mengenai kebudayaan.yang
sudah berkembang ( beradab, maju); dan 4) sesuatu yang
sudah menjadi kebiasan yang sudah sukar diubah. Secara
pendekatan, kata budaya berasal dari bahasa Sangsekerta
budhcayah Koentjaraningrat, (2004) yaitu bentuk jamak dari
kata budhi  yang berarti budi atau akal. Yang berkenaan
dengan akal dan budi tetapi dalam penekanan kata kerja
bahasa Latin yang menyebutnya sebagai colera yang artinya
mengelola, menyuburkan, mengembangkan tanah. Dari kata
Latin ini lahir turunan dikalangan antropologi diterjemahkan
sebagai kebudayaan. Sedangkan kata Cutural di terjemahkan
menjadi budaya.
2
 
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkam bahwa
budaya adalah nilai-nilai yang dimiliki manusia. Dengan kata
lain, semua manusia merupakan aktor kebudayaan karena
manusia bertindak dalam lingkup kebudayaan.
3
 
b) Pengertian Organisasi  
Organisasi adalah setiap bentuk perserikatan antara
dua orang atau lebih yang bekerjasama untuk tujuan
bersama dan terikat secara formal dalam persekutuan
yang selalu terdapat hubungan antarsorang atau
                                                      
1
      
 Wahyu Suryanti, Eni, Pengembangan Budaya Organisasi Di Sekolah, Jurnal Ilmiah Vol 19  
No 1, 2017, Hal 2
      
2
 Yusmariono, Hubungan Antara Budaya Organisasi Dengan  Kompetensi Sosial Guru, Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam Vol 1. No 1. Juli - Desember 2017, Hal 43.  
      
3
 Sulaksono, Hari, Budaya Organisasi dan Kinerja ( Sleman: CV. Budi Utama, 2015), 2.
 
3
sekelompok orang yang disebut pimpinan dan seorang
orang lain yang disebut bawahan.
4
 
Organisasi juga merupakan suatu sistem perserikatan
formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok
orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu.
Organiasi hanya merupakan alat dan wadah saja. Kalau
dari segi wujudnya maka organisasi adalah kerja sama
orang-orang atau sekelompok orang untuk mencapai
tujuan yang diingini. Dalam segi wujudnya ini organisasi
bersifat dinamis..
5
 
c) Pengertian Budaya Organisasi
Menurut Robbins budaya organisasi merupakan
sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota
yang membedakan suatu organisasi dari organisasi  lain.
6
 
Lebih lanjut Robbins menyatakan bahwa budaya
organisasi merupakan perekat sosial yang mengikat
anggota-anggota organisasi secara bersama-sama melalui
nilai-nilai bersama, norma-norma standar yang jelas
tentang apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan dan
dikatakan oleh anggotanya.
Dari beberapa definisi tersebut di atas dapat
disimpulkan bahwa pengertian budaya organisasi adalah
suatu pola asumsi-asumsi dasar yang berkenaan dengan
kepercayaan, nilai-nilai dan tingkah laku yang diciptakan
dan dikembangkan oleh suatu organisasi sebagai dasar
dalam menentukan tujuan, keunggulan, prestasi (kinerja),
inovasi, kesatuan, keakraban dan integrasi organisassi
yang dijadikan sebagai norma atau pedoman bagi para
anggota organisasinya untuk berperilaku sama dalam
memecahkan masalah-masalah organisasi.
7
 
                                                      
4
       
 Sulaksono, Hari, Budaya Organisasi dan Kinerja ( Sleman: CV. Budi Utama, 2015), 1.
5
      
 Wahyu Suryanti, Eni, Pengembangan Budaya Organisasi Di Sekolah, Jurnal Ilmiah Vol 19  
No 1, 2017, Hal 3.
      
6
 Sulaksono, Hari, Budaya Organisasi dan Kinerja ( Sleman: CV. Budi Utama, 2015), 2.
7
      
 Praja Tuala, Riyuzen, Budaya Organisasi Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan Islam
 
4


d) Terbentuknya Budaya Organisasi
Terbentuknya budaya organisasi menurut Robbins
adalah sebagai berikut:




 Dari gambar diatas dapat dijelaskan bahwa budaya
organisasi dibentuk oleh filosofi dari pendiri organisasi dengan
melalui kriteria yang dianut, kemudian ditetapkan oleh
manajemen puncak
Manajemen
Puncak
Budaya
Organisasi
Filosofi Pendiri
Organisasi
Kriteria Seleksi
Sosialisasi
(Top Management), yang
implementasinya dilakukan dengan cara disosialisasikan ke
seluruh karyawan, sehingga sikap dan perilaku karyawana
akan sesaui dengan apa yang diinginkan oleh organisasi.
Sosialisasi yang efekif akan menghasilkan karyawan
yang mempunyai tingkat penyesuaian yang lebih baik, yang
pada akhirnya akan dapat menurunkan gejala tekanan
psikologis, menurunkan dorongan keinginan untuk
meninggalkan organisasi, dan akan dapat meningkatkan
kepuasan kerja dan kinerja karyawan.
8
 
 
e) Karakteristik Budaya Organisasi
Menurut Robbins dalam buku Organizational Theory
Structure, Desain and Aplications, ia mengemukaka tujuh
karakteristik budaya organisasi sebagai berikut:
1) Inovasi dan pengambilan resiko, yaitu sejauh
mana para karyawan didorong untuk inovatif
dan mengambil resiko.
2) Perhatian, yaitu sejauh mana para karyawan
                                                                                                                                                              
(Bandar Lampung: Pusaka Media, 2020), 4.

       
8
Utaminingsih, Alifiulahtin, Perilaku Organosasi (Kajian Teoritik &Empirik Terhadap Budaya
Organisasi, Gaya Kepemimpinan, Kepercayaan dan Komitmen (Malang:UB Press, 2014), 31.  
 
5
diharapakan memperlihatkan
presisi
(kecermatan), analisis dan perhatian terhadap
hal yang lebih rinci.
3) Orientasi hasil, yaitu sejauh mana manajemen
memusatkan perhatian pada hasil, bukannya
pada teknik dan proses yang digunakan untuk
mencapai hasil.
4) Orientasi orang, yaitu sejauh mana keputusan
manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil
pada orang-orang didalam organisasi tersebut.
5) Orientasi tim, yaitu sejauh mana kegiatan kerja
diorganisasikan dalam tim-tim kerja, bukannya
individu-individu.
6) Kegresifan, yaitu sejauh mana orang-orang itu
agresif dan kompetitif dan bukannya santaisantai.

7)

Kemantapan, yaitu sejauh mana kegiatan
organisasi menekankan dipertahankannya
status quo dari pada pertumbuhan.
9
 
 Sementara itu, Luthan mengetengahkan enam
karakteristik penting dari budaya organisasi, yaitu:
 (1) obeserved behavioral regularities; yakni keberaturan
cara bertindak dari para anggota yang tampak teramati.
Ketika anggota organisasi berinteraksi dengan anggota
lainnya, mereka mungkin menggunakan bahasa umum,
istilah, atau ritual tertentu.
 (2) norms; yakni berbagai standar perilaku yang ada,
termasuk di dalamnya tentang pedoman sejauh mana
suatu pekerjaan harus dilakukan.
(3) dominant values; yaitu adanya nilai-nilai inti yang
dianut bersama oleh seluruh anggota organisasi, misalnya
tentang kualitas produk yang tinggi, absensi yang rendah
                                                      
9
     
 Ibid, 5.  
 
6
atau efisiensi yang tinggi.
(4) philosophy; yakni adanya kebijakankebijakan yang
berkenaan dengan keyakinan organisasi dalam
memperlakukan pelanggan dan karyawan.
(5) rules; yaitu adanya pedoman yang ketat, dikaitkan
dengan kemajuan organisasi.
(6) organization
climate; merupakan perasaan
keseluruhan (an overall “feeling”) yang tergambarkan dan
disampaikan melalui kondisi tata ruang, cara berinteraksi
para anggota organisasi, dan cara anggota organisasi
memperlakukan dirinya dan pelanggan atau orang lain.
Dari kedua pendapat di atas, kita melihat adanya
perbedaan pandangan tentang karakteristik budaya
organisasi, terutama dilihat dari segi jumlah karakteristik
budaya organisasi. Kendati demikian, ketiga pendapat
tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan perbedaan
yang prinsipil.
10
 
f) Fungsi Budaya Organisasi
Sebagai nilai-nilai dan norma-norma yang dijunjung
tinggi dan diterapkan oleh semua anggota organisasi,
tentunya budaya organisasi memiliki beberapa fungsi ,
diantaranya:
1) Memiliki peran yang kuat dalam mendefinisikan
batasan-batasan yang sangat berarti agar
dapat membedakan satu organisasi dengan
organisasi lainnya.
2) Membantu kita dalam menciptakan rasa
identitas bagi seluruh anggota organisasi.
3) Mendorong para anggota agar lebih
mengedepankan kepentingan organisasi
dibandingkan kepentingan pribadi mereka.
4) Membantu meningkatkan stabilitas sistem
                                                      
10
      
 Wahyu Suryanti, Eni, Pengembangan Budaya Organisasi Di Sekolah, Jurnal Ilmiah Vol 19  
No 1, 2017, Hal 5.
 
7
sosial.
5) Menjadi mekanisme akal dan kontrol yang
memandu dan membentuk sikap dan perilaku
karyawan.
11
 
6) Mempermudah penerusan komitmen hingga
mencapai batasan yang lebih luas, melebihi
batasan ketertarikan individu.
12
 

g) Unsur-Unsur Budaya Organisasi
1) Profesionalisme, merupakan ukuran kecakapan
atau keahlian yang dimiliki oleh pekerja dalam
organisasi.
2) Kepemimpinan, yaitu tingkat keterlibatan atasan
terhadap masalah-masalah diluar pekerjaan yang
dialami oleh bawahan.
3) Kepercayaan kepada rekan sekerja, yaitu
interaksi yang terbina antar sesama pekerja dalam
organisasi.
4) Keteraturan, yaitu kondisi lingkungan kerja yang
menunjukkan adanya aturan-aturan atau ketentuan
yang harus dipatuhi oleh anggota organisasi.
5) Konflik, yaitu adanya pertentangan dan
ketidakharmonisan dalam suatu organisasi yang
menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja.
6) Integrasi, yaitu iklim yang terbentuk dalam
organisasi dimana pekerja merasa memiliki ikatan
yang kuat dengan organisasi.
13
 
h) Esensi budaya Organisasi
Menurut Siagian, para pakar mendefinisikan  esensi
dimaksud adalah:
1) Sampai sejauh mana manajemen akan mendorong
                                                      
11
      
 Maria Silalahi, Elvie, Buku Referensi Intellectual Capital (Jakarta: Deepublish, 2021), 48-49.
12
      
 Duha, Timotius, Perilaku Organisasi ( Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018), 284.
13
      
 Astrama, Made, DKK, Perilaku Kerja Inovativ, Budaya Organisasi dan Kinerja Karyawan :
Konsep dan Aplikasi dalam Penelitian, (Bandung: CV. Media Sains Indonesia, 2021), 40-43.  
 
8
para   karyawannya untuk bekerja secara inovatif
dan berani mengambil risiko.
  b. Budaya organisasi juga harus memberi petunjuk,
apakah para karyawan diharapkan bekerja dengan
tingkat ketelitian yang tinggi, melakukan analisis,
serta memperhatikan hal-hal yang detail, ataukah
dibenarkan bekerja dengan hasil yang sekadar
memenuhi persyaratan minimal.
 c. Dalam budaya organisasi harus tercermin
pandangan manajemen tentang apakah para
karyawan diharapkan lebih mementingkan orientasi
hasil, atau mendahulukan ketaatan kepada proses
dan prosedur kerja.
 d. Budaya organisasi harus mencerminkan pandangan
manajemen tentang pentingnya sumber daya
manusia sebagai elemen yang paling strategik
dalam organisasi, betapa pun pentingnya ketaatan
pada ketelitian dan prosedur kerja yang baku.
 e. Budaya organisasi seyogianya memberikan
penekanan yang kuat tentang pentingnya kerja
sama dan kemampuan bekerja dalam tim dan tidak
menonjolkan kehebatan individual, meskipun
tentunya kemampuan individual tetap harus
diperhitungkan.
f. Perilaku yang bagaimana harus ditampilkan oleh
para  anggota organisasi, yang agresif dan
kompetitif atau santai, perlu penekanan yang
tepat.
14
 
i) . Pengembangan Budaya Organisasi di Sekolah
 Dengan memahami konsep tentang budaya
organisasi sebagaimana telah diutarakan di atas,
selanjutnya di bawah ini akan diuraikan tentang
                                                      
14
      
 Wahyu Suryanti, Eni, Pengembangan Budaya Organisasi Di Sekolah, Jurnal Ilmiah Vol 19  
No 1, 2017, Hal 5.
 
9
pengembangan budaya organisasi dalam konteks
persekolahan. Secara umum, penerapan konsep budaya
organisasi di sekolah sebenarnya tidak jauh berbeda
dengan penerapan konsep budaya organisasi lainnya.
Kalaupun terdapat perbedaan mungkin hanya terletak
pada jenis nilai dominan yang dikembangkannya dan
karakateristik dari para pendukungnya. Berkenaan dengan
pendukung budaya organisasi di sekolah Paul E.
Heckman sebagaimana dikutip oleh Stolp (1994)
mengemukakan bahwa “the commonly held beliefs of
teachers, students, and principals.”

Nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah, tentunya
tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sekolah itu sendiri
sebagai organisasi pendidikan, yang memiliki peran dan
fungsi untuk berusaha mengembangkan, melestarikan dan
mewariskan nilai-nilai budaya kepada para siswanya.
Dalam hal ini, Larry Lashway (1996) menyebutkan bahwa
“schools are moral institutions, designed to promote social
norms,…”
. Nilai-nilai yang mungkin dikembangkan di sekolah
tentunya sangat beragam. Jika merujuk pada pemikiran
Spranger sebagaimana disampaikan oleh Suryabrata
(1990), maka setidaknya terdapat enam jenis nilai yang
seyogyanya dikembangkan di sekolah.  
Dalam tabel 1 berikut ini dikemukakan keenam jenis
nilai dari Spranger beserta perilaku dasarnya.  
Tabel 1. Jenis Nilai dan Perilaku Dasarnya menurut
Spranger




 
 
10
 
No
Nilai
Perilaku Dasar
1 Ilmu Pengetahuan
Berfikir
2 Ekonomi
Bekerja
3 Kesenian
Menikmati keindahan
4 Keagamaan  
Memuja
5 Kemasyarakatan
Berbakti/Berkorban
6 Politik/kenegaraan  Berkuasa/Memerintah

                               2. KONSEP SISTEM SOSIAL
a) Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa latin (Systema), yakni
suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen
yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran
informasi, materi atau energi.
15
 
Sistem juga merupakan kesatuan bagian-bagian yang
saling berhubungan, yang berada dalam suatu wilayah
serta memiliki bagian penggerak, contoh umum misalnya
negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa
elemen kesatuan lain seperti provinsi, yang saling
berhubungan sehingga membentuk suatu negara dimana
yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang
berada dinegara tersebut.

b) Pengertian Sistem Sosial
Menurut Garna, sistem sosial adalah suatu perangkat
peran sosial yang berinteraksi atau kelompok sosial yang
memiliki nilai-nilai, norma, dan tujuan yang sama. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa sistem sosial itu pada
dasarnya ialah suatu sistem dari berbagai tindakan.
Seperti yang diungkapkan oleh Parsons, sistem sosial
                                                      
15
      
 Julyati Hisyam, Ciek, Sistem Sosial Budaya Indonesia ( Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara,
2020), 1.
 
11
merupakan proses interaksi diantara pelaku sosial.
16
 
c) Sekolah Sebagai Sistem Sosial
Sekolah merupakan sebuah sistem sosial yang unik
dengan berbagai budaya individu yang berbeda menyatu
ke dalam satu sistem sekolah. Oleh karena itu, sekolah
tidak bisa lepas dari kepercayaan dan nilai-nilai dari
masyarakat sekitarnya. Persimpangan terbuka antara
sebuah sekolah dan lingkungan eksternal, nilai-nilai
komunitas dan keyakinan berdampak pada bagaimana
budaya sekolah berkembang. Sistem penggabungan
budaya sistem sosial sangat penting, karena
mempengaruhi berbagai reaksi, kegiatan, dan perilaku.
Sekolah terdiri dari orang-orang yang memiliki
hubungan satu sama lain. Setiap orang yang berada di
sekolah memiliki peran yang harus dijalankan supaya
sistem interksi tersebut tetap terjaga. Peran yang dapat
diidentifikasi di sekolah adalah guru, siswa, kepala
sekolah, staf TU, laboran, pustakawan, penjaga sekolah,
satpam sekolah.
Gunawan dalam Muhyi Batubara mengatakan,
manusia sebagai pribadi tidak dapat hidup dan
menghayati eksistensinya secara wajar kecuali hidup
bersama dengan sesamanya. Mereka satu sama lain
saling membutuhkan, sebab pada hakekatnya manusia
adalah mahluk social. Sekolah sebagai sistem sosial ini
pada mulanya dikembangkan oleh Getzel dan Guba.
17
 
Pendidikan sebagai proses pembinaan potensi anak
dan transformasi budaya dalam dalam kehidupan
masyarakat memiliki spektrum proses, kegiatan, dan
                                                      
16
      
 Julyati Hisyam, Ciek, Sistem Sosial Budaya Indonesia ( Jakarta Timur: PT. Bumi Aksara,
2020), 2.
      
17
  Usman, Husaini, Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Teori dan
Praktek  (Jakarta : Bumi Aksara, 2019), 1.
 
 
12
18
institusi yang luas.
 
Menurut Newwel, sekolah sebagai sistem sosial dapat
dipandang dalam dua cara yang berbeda, yaitu (1) dalam
istilah interaksi sebagai individu secara aktual dan (2)
istilah abstraksi analisis. Dalam kajian manajemen
pendidikan, istilah interaksi berbagai individu menjadi
dasar aktualitasnya. Lebih lanjut Newwel mengemukakan
model Gatzels-Guba-Thelen, yaitu



     Dimensi Nometetik
                                Lembaga      Peranan        Harapan Peranan

Sistem Sosial                                                                       Perilaku Yang di observasi

                                Individu       Kepribadian       Disposisi Kebutuhan
       Dimensi Ideografik





 
 






 
                                                      
18
      
  Anzizhan, Syafaruddin, Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan  (Jakarta: PT.Grasindo Anggota
Ikapi, 2004), 15.
 
13


d) Unsur-Unsur Penting sekolah Sebagai Sistem Sosial
19
 
                    Lingkungan Eksternal Sekolah







 
Inputs
 Sekolah sebagai sistem sosial
 Filsafat dan konsep administrasi
 Perkembangan dan model manajemen
pendidikan
 Perencanaan pendidikan
 Pembiayaan pendidikan
 Guru dan tenaga kependidikan
 Kewenangan pemerintah pusat/provinsi
 Kelompok stalkerholder
 Penelitian dan praktik terbauk manajemen
Proses
U
mp
an
Ba
lik
 Pengorganisasian
 Budaya organisasi administrasi
 Iklim organisasi sekolah
 Kepemimpinan pendidikan
 Perkepalasekolahan
 Motivasi
 Pembuatan keputusan dan penyelesaian
masalah
 Komunikasi,koordinasi, dan manajemen
konflik
 Supervisi pendidikan
 Manajemen mutu terpadu pendidikan
 Kurikulum dan pengembangannya
 Manajemen perubahan
 Manajemen pembelajaran
 Pengembangan keprofesian berkelanjuatan
 Manajemen sumber daya manusia
 Evaluasi program dan kinerja
                                                      
19
      
 Usman, Husaini, Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Teori dan Praktek  
(Jakarta : Bumi Aksara, 2019), 15.
 
14
                 
















































 
Outputs
 Prestasi akademik dan non akademik siswa
 Kinerja guru
 Pertumbuhan siswa dan pegawai
 Siswa putus sekoalh
 Pergantian pegawai
 Ketidakhadiran siswa dan pegawai
 Hubungan pegawai-pemimpin
 Hubungan sekolah-masyarakat
 Sikap siswa terhadap sekolah dan kepuasan
kerja pegawai
 
15

e)  Komponen Madrasah Sebagai Sistem Sosial  
Madrasah sebagai sistem :
1) Input Madrasah, yakni masukan yang dibutuhkan madrasah.
2) Raw Input Madrasah, kualitas peserta didik yang mengikuti
proses pendidikan
20
.   
3) Proses Madrasah, manajemen madrasah dalam mengelola
segala sesuatu yang terjadi di Madrasah.
4) Output Madrasah, segala sesuatu yang didapat dari madrasah
bukan hanya tentang pelajaran tapi tentang akhlak dan sosial.
5) Outcome Madrasah, lulusan dari madrasah yang berguna untuk
kehidupan masyarakat umum.
21
 
f) Konsep-konsep Sosial di dalam Madrasah :
1) Kedudukan dalam Madrasah
2) Jenis Kelamin
3) Struktur Formal dalam lembaga
4) Usia
5) Lahan garap di Madrasah
6) Interaksi di Madrasah
7) Klik antar siswa
Sebagai sistem sosial, madrasah dapat dilihat sebagai
institusi yang interaktif dan dinamis, karena didalamnya berada
sekelompok individu yang memiliki kepentingan yang sama
(kepentingan penyelenggaraan pendidikan), tetapi setiap
kemampuan  individu pada institusi itu berbeda-beda dengan
potensi dan latar belakang kehidupan yang berbeda. Madrasah
sebagai salah satu bentuk sistem sosial, tempat civitas
madrasah berinteraksi satu dengan yang lainnya, lingkungan
madrasah dipastikan melibatkan berbagai nilai kehidupan. Nilainilai

itu berupa nilai yang sudah dilembagakan seperti
kedisiplinan dan kerapihan yang diatur dalam tata tertib
madrasah atau nilai kecerdasan, kejujuran, tanggung jawab, dan
                                                      
20
      
 Awwaliyah, Nurul dan Siti Rofiah, Madrasah Sebagai Sistem Sosial  Perspektif Talcott Parsons , :
Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 2, Nomor 1, Maret 2021 hal 64.
      
21
 Ibid, 65.
 
16
kesehatan yang diatur melalui kurikulum.
22
 






















 
 






 
                                                      
 
 
17
BAB III
PEMBAHASAN
A. Implementasi Budaya Organisasi Dan Sistem Sosial Di
Madrasah/Sekolah
Di sekolah terjadi interaksi yang saling mempengaruhi antara
individu dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial.
Lingkungan ini akan dipersepsi dan dirasakan oleh individu tersebut
sehingga menimbulkan kesan dan perasaan tertentu. Dalam hal ini,
sekolah harus dapat menciptakan suasana lingkungan kerja yang kondusif
dan menyenangkan bagi setiap anggota sekolah, melalui berbagai
penataan lingkungan, baik fisik maupun sosialnya
Lingkungan kerja yang kondusif disini baik lingkungan fisik, sosial
maupun psikologis dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif
untuk bekerja dengan baik dan produktif. Untuk itu, dapat diciptakan
lingkungan fisik yang sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata
letak, fasilitas dan sebagainya. Demikian pula, lingkungan sosialpsikologis,

seperti hubungan antar pribadi, kehidupan kelompok,
kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan, kesempatan untuk
maju, kekeluargaan dan sebagainya.
23
 
Sama halnya dengan sistem sosial budaya organisasi juga memiliki
pengaruh yang signifikan pada keefektifan suatu madrasah/sekolah.
Dengan demikian, keberhasilan suatu lembaga sekolah dapat terpengaruh
dari budaya yang terjadi dalam organisasi tersebut. Sumber daya yang
dimiliki organisasi sekolah dapat berkembang sesuai dengan budaya
organisasi yang melibatkan sistem dan mekanisme yang berkembang.
Budaya organisasi berpengaruh besar pada tingkat pemimpin dan
karyawan sekolah, sehingga efektivitas proses kerja dan pembelajaran
yang terjadi dapat berjalan dengan baik jika budaya organisasi disekolah
yang
terjadi
sesuai
dengan
sistematika
prestasi
kerjaorganisasiyangbersangkutan.
Terbentuknya budaya organisasi bermula dari ide yang dimiliki
pemimpin, selanjutnya budaya tersebut digunakan sebagai pedoman
                                                      
23
       
 Wahyu Suryanti, Eni , Pengembangan Budaya Organisasi Di Sekolah Jurnal Ilmiah. Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Volume 19, Nomor 1, hal 10-11 Tahun 2020.
 
 
18
dalam mengelola lembaga pendidikan. Tindakan manajemen puncak
menentukan iklim umum dari perilaku yang dapat diterima atau tidak.
Keberhasilan pembumian budaya sekolah sangat tergantung pada fokus
dan komitmen pemimpin.
Di sekolah karakter atau budaya tertentu yang ingin diterapkan
mungkin muncul pertama kali dari kepala sekolah atau pimpinan
puncaknya. Akan tetapi, budaya tersebut harus didiskusikan dengan
anggota yang lainnnya. Diskusi antara pimpinan dan guru serta staff akan
memunculkan kesepakatan tentang budaya apa saja yang ingin
ditransformasikan kepada para siswa sebagai anak didik. Bagaimanaa
strategi pembudayaan dan penyediaan fasilitasnya akan mudah
dirumuskan melalui diskusi yang melibatkan banyak pihak disekolah.
Sehingga dengan demikian budaya organisasi dapat diaplikasikan di
sekolah dan mewujudkan cita-cita dan tujuan pendidikan yang efektif dan
effisien.
24
 
Contoh pengaplikasian budaya organisasi itu juga tergantung
kondisi internal dan eksternal lingkungan sekolah tersebut, seperti  berikut
ini:
- Kondisi eksternal inovativ, adaptif, bekerja keras, dan peduli
terhadap orang lain akan menciptakan kondisi lingkungan
yang disiplin, jujur, hubungan yang sederhana anta orang dan
bagian serta berwawasan yang luas.
- Kondisi internal inisiatif, kebersamaan, tanggung jawab, rasa
memiliki dan komitmen terhadap lembaga akan menciptakan
kondisi lingkungan yang saling bekerja sama, saling
pengertian, semangat, memiliki rasa persatuan, taat asa,
memotivasi, dan membimbing.
25
 




 
                                                      
24
      
 Musfah, Jejen, Manajemen Pendidikan (Aplikasi, Strategi dan Inovasi) (Jakarta:Prenada Media
Group, 2018), 20.
      
25
 Muhaimin, Manajemen Pendidikan : Aplikasi Daalam Penyusunan Rencana Pengembangan
Sekolah/Madrasah (Jakarta:Prenada Media, 2009), 55.
 
19
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Budaya Organisasi adalah suatu pola asumsi-asumsi dasar
yang berkenaan dengan kepercayaan, nilai-nilai dan tingkah
laku yang diciptakan dan dikembangkan oleh suatu organisasi
sebagai dasar dalam menentukan tujuan, keunggulan,
prestasi (kinerja), inovasi, kesatuan, keakraban dan integrasi
organisassi yang dijadikan sebagai norma atau pedoman bagi
para anggota organisasinya untuk berperilaku sama dalam
memecahkan masalah-masalah organisasi.
2. Sistem Sosial adalah suatu perangkat peran sosial yang
berinteraksi atau kelompok sosial yang memiliki nilai-nilai,
norma, dan tujuan yang sama. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa sistem sosial itu pada dasarnya ialah suatu
sistem dari berbagai tindakan.
3. Implementasi Budaya Organisasi Dan Sistem Sosial Di
Madrasah/Sekolah
1. Lingkungan kerja yang kondusif disini baik lingkungan
fisik, sosial maupun psikologis dapat menumbuhkan dan
mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan
produktif. Untuk itu, dapat diciptakan lingkungan fisik yang
sebaik mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak,
fasilitas dan sebagainya. Demikian pula, lingkungan sosialpsikologis,

seperti hubungan antar pribadi, kehidupan
kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi,
bimbingan, kesempatan untuk maju, kekeluargaan dan
sebagainya.
2. Sama halnya dengan sistem sosial budaya organisasi
juga memiliki pengaruh yang signifikan pada keefektifan
suatu madrasah/sekolah yaitu:
- Kondisi eksternal inovativ, adaptif, bekerja keras, dan
 
20
peduli terhadap orang lain akan menciptakan kondisi
lingkungan yang disiplin, jujur, hubungan yang sederhana
anta orang dan bagian serta berwawasan yang luas.
- Kondisi internal inisiatif, kebersamaan, tanggung jawab,
rasa memiliki dan komitmen terhadap lembaga akan
menciptakan kondisi lingkungan yang saling bekerja sama,
saling pengertian, semangat, memiliki rasa persatuan, taat
asa, memotivasi, dan membimbing Dengan demikian,
keberhasilan suatu lembaga sekolah dapat terpengaruh dari
budaya yang terjadi dalam organisasi tersebut.
B. SARAN
Sebaiknya untuk para pemangku organisasi seperti kepala sekolah
pendidik tenaga kependidikan dan stakeholder lainnya lebih meningkatkan
lagi semangat untuk membangun budaya sekolah dan sistem sosial yang
baik. Agar terciptanya lingkungan madrasah yang baik dan sesuai dengan
tujuan pendidikan. Selain guru dan kepala sekolah akan lebih efektif lagi
jika peserta didik jga menumbuhkan jiwa budaya organisasinya yang baik
begitu juga dengan sistem sosialnya. Sehingga akan mencapai hasil yang
lebih baik lagi kedepannya.
 
 












 
 



 
 
21

DAFTAR PUSTAKA

Alifiulahtin Utaminingsih, Perilaku Organosasi (Kajian Teoritik &Empirik Terhadap
Budaya Organisasi, Gaya Kepemimpinan, Kepercayaan dan Komitmen
(Malang:UB Press, 2014).

Ciek Julyati Hisyam,.Sistem Sosial Budaya Indonesia ( Jakarta Timur: PT. Bumi
Aksara, 2020).

Duha, Timotius, Perilaku Organisasi ( Yogyakarta: CV Budi Utama, 2018), 284.

Elvie Maria Silalahi. Buku Referensi Intellectual Capital (Jakarta: Deepublish,
2021).

Eni Wahyu Suryanti. Pengembangan Budaya Organisasi Di Sekolah Jurnal
Ilmiah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Volume 19, Nomor 1, hal
10-11 Tahun 2020.

Hari Sulaksono, Budaya Organisasi dan Kinerja ( Sleman: CV. Budi Utama,
2015).
Husaini Usman. Administrasi, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan
Teori dan Praktek  (Jakarta : Bumi Aksara, 2019), 15.

Jejen Musfah, Manajemen Pendidikan (Aplikasi, Strategi dan Inovasi)
(Jakarta:Prenada Media Group, 2018).

Made Astrama, DKK. Perilaku Kerja Inovativ, Budaya Organisasi dan Kinerja
Karyawan : Konsep dan Aplikasi dalam Penelitian, (Bandung: CV. Media
Sains Indonesia, 2021).

Muhaimin, Manajemen Pendidikan : Aplikasi Daalam Penyusunan Rencana
Pengembangan Sekolah/Madrasah (Jakarta:Prenada Media, 2009), 55.

Nurul Awwaliyah dan Siti Rofiah. Madrasah Sebagai Sistem Sosial  Perspektif
Talcott Parsons , : Jurnal Pendidikan Agama Islam Volume 2, Nomor 1,
Maret 2021 hal 64.

Riyuzen Praja Tuala. Budaya Organisasi Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan
 
22
Islam (Bandar Lampung: Pusaka Media, 2020).  
 
Syafaruddin Anzizhan. Sistem Pengambilan Keputusan Pendidikan. (Jakarta:
PT.Grasindo Anggota Ikapi, 2004).
 
Yusmariono, Hubungan Antara Budaya Organisasi Dengan  Kompetensi Sosial
Guru, Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol 1. No 1. Juli - Desember
2017, Hal 43.
 
 
23

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPE DAN SIFAT KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH MI MUHAMMADIYAH DOLOPO

MENCIPTAKAN ORGANISASI YANG EFEKTIF (TEORI DAN APLIKASINYA DI MADRASAH/SEKOLAH)